Why Are Chinese Stainless Steel Enterprises Crazy About Building Integrated Projects Overseas?

Telah Terbit: Jun 2, 2023 17:55
Sumber: SMM
SHANGHAI, Jun 1 (SMM) – Resources: According to SMM statistics, China's nickel sulphide ore output was about 80,000 mt in metal content in 2021, and the total nickel ore import was about 430,000 mt in metal content.

SHANGHAI, Jun 1 (SMM) – Resources: According to SMM statistics, China's nickel sulphide ore output was about 80,000 mt in metal content in 2021, and the total nickel ore import was about 430,000 mt in metal content. Imports of laterite nickel ore were 340,000 mt in metal content and imports of nickel sulphide ore were 90,000 mt in metal content, reflecting heavy reliance on imports. For laterite nickel ore, China not only has small reserves and low grade, but also has high mining costs, which makes China uncompetitive in laterite nickel ore mining. Laterite nickel ore is the main raw material of NPI, while the latter is an important raw material in stainless steel production. As a major stainless steel producer, China needs to import a large amount of laterite nickel ore every year to develop its stainless steel industry. With the implementation of Indonesia’s nickel ore export ban, some Chinese mining companies and smelters began to make plans for building smelting and refining projects overseas.

Cost: NPI is the main raw material for stainless steel production. Compared with Indonesian companies, Chinese companies have obvious disadvantages in NPI production costs. Chinese companies import nickel ore mainly from the Philippines, whose nickel ore is of lower grade and more expensive than Indonesian ore. As a result, the raw material costs of Chinese NPI enterprises are higher than their competitors in Indonesia. As the NPI market is expected to maintain an oversupply in the future, the competitiveness of small stainless steel enterprises with high costs in China will be further weakened. In order to seek better development, Chinese enterprises are looking for opportunities to "go global".

Pernyataan Sumber Data: Kecuali informasi yang tersedia untuk publik, semua data lainnya diproses oleh SMM berdasarkan informasi publik, komunikasi pasar, dan mengandalkan model database internal SMM. Hanya untuk referensi dan tidak menjadi rekomendasi pengambilan keputusan.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut, silakan hubungi: lemonzhao@smm.cn
Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mengakses laporan penelitian kami, hubungi:service.en@smm.cn
Berita Terkait
[SMM Nickel Flash News] Pembaruan Indonesia — 19 Agustus 2026
12 jam yang lalu
[SMM Nickel Flash News] Pembaruan Indonesia — 19 Agustus 2026
Baca Selengkapnya
[SMM Nickel Flash News] Pembaruan Indonesia — 19 Agustus 2026
[SMM Nickel Flash News] Pembaruan Indonesia — 19 Agustus 2026
Harga rata-rata CIF bijih nikel Indonesia meningkat di ketiga kadar, dengan kenaikan tertinggi tercatat untuk bijih kadar 1,6% Ni. • 1,4% Ni: Harga rata-rata CIF tetap $53,3/wmt. • 1,5% Ni: Harga rata-rata CIF tetap $60,8/wmt, • 1,6% Ni: Harga rata-rata CIF tetap $65,8/wmt, • Premi: Pelaku pasar memastikan bahwa premi tetap stabil dibandingkan paruh pertama Agustus, tanpa perubahan signifikan pada level premi yang berlaku. =================================================================== Pembaruan Kebijakan Terbaru Indonesia — 19 Agustus 2026 Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang direncanakan Indonesia tetap menjadi perkembangan kebijakan utama yang relevan dengan nikel. Pemerintah menyatakan bursa ini diharapkan mencakup nikel, batu bara, dan minyak sawit, dengan target operasional 1 Januari 2027, bertujuan menetapkan harga acuan domestik untuk komoditas strategis. • Dampak terhadap nikel: Bursa ini dapat memperkuat pengaruh Indonesia dalam pembentukan harga nikel dan patokan domestik, berpotensi memberi harga Indonesia peran lebih besar di pasar internasional. • Perkembangan terbaru: Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada 17 Agustus menyatakan bahwa persiapan sedang berjalan untuk bursa yang sementara disebut Icomex tersebut. Morowali, Sulawesi Tengah: Agustus umumnya periode yang relatif menguntungkan, dan prakiraan saat ini menunjukkan curah hujan minim, sehingga operasi penambangan, pengangkutan, dan pelabuhan seharusnya tetap berjalan normal. • Halmahera: Risiko curah hujan musiman lebih tinggi dibanding Morowali. Halmahera beriklim lembap bahkan di bulan Agustus, dengan hujan terjadi di banyak hari. Namun, prakiraan mingguan saat ini menunjukkan curah hujan terbatas, sehingga tidak ada gangguan besar yang diantisipasi minggu ini. • Oleh karena itu, untuk Indonesia, Halmahera adalah wilayah yang perlu diwaspadai terkait hujan, bukan Morowali.
12 jam yang lalu
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (19 Agustus)
13 jam yang lalu
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (19 Agustus)
Baca Selengkapnya
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (19 Agustus)
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (19 Agustus)
Tabel berikut menunjukkan pergerakan logam besi dan non-besi di SHFE dan DCE pada 19 Agustus 2026.
13 jam yang lalu
[Ulasan Harian SMM Nikel Sulfat] 19 Agustus Perdagangan Pasar Pesanan Spot Lesu, Harga Nikel Sulfat Menurun
14 jam yang lalu
[Ulasan Harian SMM Nikel Sulfat] 19 Agustus Perdagangan Pasar Pesanan Spot Lesu, Harga Nikel Sulfat Menurun
Baca Selengkapnya
[Ulasan Harian SMM Nikel Sulfat] 19 Agustus Perdagangan Pasar Pesanan Spot Lesu, Harga Nikel Sulfat Menurun
[Ulasan Harian SMM Nikel Sulfat] 19 Agustus Perdagangan Pasar Pesanan Spot Lesu, Harga Nikel Sulfat Menurun
Pada 19 Agustus, harga rata-rata nikel sulfat kelas baterai SMM turun sedikit.
14 jam yang lalu