【Analisis SMM】Pembaruan PP 28/2025: Dampak bagi Smelter Nikel Indonesia

Telah Terbit: Nov 14, 2025 01:22
Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 (PP 28/2025) yang mengatur "Pelaksanaan Izin Usaha Berbasis Risiko" pada tanggal 5 Juni 2025. SMM telah berpartisipasi dalam acara FINI (Forum Industri Nikel Indonesia) Coffee Morning, dengan pembicara utama Direktur Jenderal ILMATE (Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika), Dr. Setia Diarta, M.T., dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari berbagai pabrik peleburan di seluruh Indonesia.

Pendahuluan
Menyusul penjelasan sebelumnya mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 (PP 28/2025) yang mengatur "Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko" pada 5 Juni 2025, SMM telah mengikuti FINI (Forum Industri Nikel Indonesia) Coffee Morning yang menampilkan Dirjen ILMATE (Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronik), Dr. Setia Diarta, M.T., dan dihadiri oleh pemangku kepentingan dari berbagai smelter di seluruh Indonesia.

Tautan Berita Sebelumnya:


I. Mengapa Berita Ini Baru-baru Ini Mendapat Perhatian?

Meskipun peraturan PP 28/2025 dirilis pada Juni 2025, terdapat masa tenggang empat bulan dalam sistem pemerintah. Akibatnya, selama Oktober–November, smelter Indonesia mulai menerima pemberitahuan dari sistem OSS (Online Single Submission) — platform yang digunakan untuk mengajukan permohonan Izin Usaha Industri (IUI). Pemberitahuan tersebut mewajibkan perusahaan untuk menyerahkan pernyataan tertulis yang menjelaskan bahwa mereka tidak akan memproduksi MHP, FeNi, NPI, atau matte nikel.

Namun, sistem aplikasi OSS belum berjalan lancar, dengan ketidakstabilan dan crash sistem yang sering terjadi yang mempengaruhi proses pengajuan.


II. Poin-Poin Diskusi (Disampaikan oleh Bapak Eko Widodo, Kepala Tim Verifikasi Perizinan Berusaha di Direktorat Industri Logam/ILMATE)

  • Bagi smelter yang sudah dalam tahap konstruksi, FINI (Asosiasi Smelter Nikel Indonesia) akan membantu mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk meminta pengecualian dari peraturan baru ini, karena proyek-proyek tersebut dimulai sebelum pemberlakuannya. Saat mengajukan dokumen pendukung melalui sistem OSS, perusahaan juga harus mencantumkan pernyataan yang mengonfirmasi bahwa konstruksi dimulai sebelum Oktober 2025, dengan menyebutkan tanggal mulai pastinya.

  • Bagi smelter yang masih dalam tahap akuisisi lahan atau belum memulai konstruksi, mendapatkan pengecualian akan lebih menantang.

  • Bagi perusahaan yang berencana mengembangkan fasilitas hilir lebih lanjut, seperti pabrik nikel sulfat atau bahan baterai, sementara masih membangun dan mengoperasikan smelter NPI, FeNi, matte nikel, atau MHP di bawah entitas terpisah, ini akan terus diperlakukan sebagai dua struktur perusahaan independen. Dengan demikian, diskusi lebih lanjut dengan pemerintah akan diperlukan untuk kasus khusus ini.


III. Kesimpulan dan Pembaruan Lebih Lanjut

Dari diskusi ini, kemungkinan smelter yang saat ini sedang dibangun akan mendapat pertimbangan, karena konstruksinya dimulai sebelum penerbitan PP 28/2025. Untuk klarifikasi lebih lanjut, FINI akan diundang ke rapat koordinasi lain dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, yang diharapkan berlangsung minggu depan. SMM akan terus melaporkan perkembangan dan memberikan kejelasan mengenai peraturan ini.

Pernyataan Sumber Data: Kecuali informasi yang tersedia untuk publik, semua data lainnya diproses oleh SMM berdasarkan informasi publik, komunikasi pasar, dan mengandalkan model database internal SMM. Hanya untuk referensi dan tidak menjadi rekomendasi pengambilan keputusan.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut, silakan hubungi: lemonzhao@smm.cn
Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mengakses laporan penelitian kami, hubungi:service.en@smm.cn
Berita Terkait
【SMM Nikel Kilat】Cuaca El Niño Meningkatkan Risiko Produksi di IMIP
15 jam yang lalu
【SMM Nikel Kilat】Cuaca El Niño Meningkatkan Risiko Produksi di IMIP
Baca Selengkapnya
【SMM Nikel Kilat】Cuaca El Niño Meningkatkan Risiko Produksi di IMIP
【SMM Nikel Kilat】Cuaca El Niño Meningkatkan Risiko Produksi di IMIP
Peristiwa El Niño 2026 terus menguat, dengan pemantauan iklim internasional menunjukkan bahwa ini bisa menjadi salah satu peristiwa El Niño terkuat yang pernah tercatat. Indonesia sudah mengalami panas dan kondisi kering yang signifikan, dengan El Niño diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan September. Menurut SMM, kekurangan air saat ini di IMIP terutama memengaruhi produksi baja karbon, sementara produksi nikel belum terdampak. Namun, jika cuaca kering dan kekurangan air terus berlanjut, tekanan lebih lanjut pada pasokan air industri dapat meningkatkan risiko pengurangan produksi nikel.
15 jam yang lalu
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (02 Sep)
17 jam yang lalu
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (02 Sep)
Baca Selengkapnya
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (02 Sep)
Data: Pergerakan pasar SHFE, DCE (02 Sep)
Tabel berikut menunjukkan pergerakan logam besi dan nonbesi di SHFE dan DCE pada 2 September 2026
17 jam yang lalu
[SMM Berita Kilat Nikel] Pembaruan Harian — 2 September 2026
17 jam yang lalu
[SMM Berita Kilat Nikel] Pembaruan Harian — 2 September 2026
Baca Selengkapnya
[SMM Berita Kilat Nikel] Pembaruan Harian — 2 September 2026
[SMM Berita Kilat Nikel] Pembaruan Harian — 2 September 2026
Dari sisi harga, pekan ini menandai minggu pertama siklus penetapan harga HMA untuk paruh pertama September, dengan HMA berada di 16.733,33 dolar AS per ton. Harga rata-rata CIF bijih nikel Indonesia disesuaikan untuk ketiga kadar: • Ni 1,3%: harga rata-rata CIF $30/wmt • Ni 1,4%: harga rata-rata CIF $52,8/wmt • Ni 1,5%: harga rata-rata CIF $59,2/wmt ________________________________________ Pembaruan Kebijakan Indonesia & DSI ICOMEX — 2 September 2026 Pasar bijih nikel Indonesia masih berada dalam masa tunggu, dengan pasar memantau secara ketat persetujuan RKAB lebih lanjut dan potensi penyesuaian kuota. Sementara itu, DSI terus mengembangkan ICOMEX, platform digitalnya untuk memantau dan mengatur ekspor mineral dan komoditas strategis. Platform ini diharapkan secara bertahap mengintegrasikan data utama terkait ekspor, termasuk kontrak, harga, kadar bijih, kode HS, kapal, tujuan, dan informasi penyelesaian. Pengembangan ICOMEX diharapkan dapat meningkatkan transparansi data ekspor, pengawasan regulasi, dan pemantauan harga, sekaligus memberikan pandangan yang lebih menyeluruh kepada pemerintah mengenai arus ekspor mineral. Kondisi cuaca di wilayah-wilayah penghasil nikel utama secara umum masih terkendali, meskipun hujan lebat setempat masih dapat menyebabkan gangguan sementara pada penambangan dan logistik. Pasar juga menantikan potensi revisi formula HPM untuk bijih limonit. Setiap perubahan pada mekanisme penetapan harga, terutama perlakuan logam ikutan dan faktor koreksi, dapat memengaruhi harga limonit dan keekonomian bahan baku HPAL. Secara keseluruhan, pasar tetap berhati-hati, dengan persetujuan RKAB, pengembangan ICOMEX, kondisi cuaca, dan potensi revisi HPM limonit menjadi faktor-faktor utama yang perlu dicermati dalam waktu dekat.
17 jam yang lalu