Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Yuliot, melaksanakan peletakan batu pertama pada 31 Agustus untuk proyek strategis nasional gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kawasan Industri Kimia Batuta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), dan akan menempati lahan sekitar 93 hektare.
Proyek ini dirancang untuk mengolah sekitar 7,70–7,78 juta ton per tahun batu bara berkalori rendah dengan nilai kalori 3.400 kkal/kg menjadi sekitar 2 juta ton per tahun metanol standar IMPCA. Ini berarti konsumsi batu bara sekitar 3,85–3,89 ton untuk setiap ton metanol yang dihasilkan. Komisioning ditargetkan pada 2029, dengan output terutama ditujukan untuk kebutuhan petrokimia, formaldehida, FAME, dan B50 di Indonesia. Indonesia mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol senilai sekitar Rp7,1 triliun pada 2025, sementara pemerintah memperkirakan proyek ini dapat menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Jika pabrik mulai beroperasi sesuai rencana pada 2029 dan mempertahankan tingkat utilisasi yang dirancang, proyek ini akan menciptakan sumber permintaan industri domestik yang stabil untuk batu bara berkalori rendah 3.400 kkal/kg di Kalimantan Timur, meningkatkan nilai pasar batu bara tersebut dan mendukung harga di mulut tambang.


![Harga Magnesium Naik Tiga Sesi Berturut-turut! Sisi Biaya Tetap "Membara" Sementara Sisi Permintaan Kesulitan Mengambil Alih [Komentar SMM]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/EutUV20251217171724.jpeg)
