Reliance Industries Ltd (RIL) sedang mengevaluasi potensi masuk ke produksi logam aluminium, menurut United News of India (UNI), seiring perusahaan menjajaki cara menghubungkan rencana operasi gasifikasi batubara dengan manufaktur logam padat energi.
Perkembangan ini terjadi setelah akuisisi blok batubara Chintalapudi dan Recherla oleh RIL melalui lelang batubara komersial pada April 2026. Pada 20 Agustus, perusahaan mengusulkan investasi sekitar Rs 2,73 triliun (US$31,4 miliar) selama 30 tahun untuk membangun kompleks gasifikasi batubara bawah tanah terpadu di distrik Eluru, Andhra Pradesh.
RIL telah memperoleh dokumen tender untuk blok bauksit Karlapat di Odisha, yang mencakup sekitar 3.100 hektare dan memiliki sumber daya diperkirakan lebih dari 200 juta ton, menurut sumber pasar kepada UNI. Namun, anak perusahaan Vedanta, Bharat Aluminium Company Ltd (BALCO), muncul sebagai penawar pilihan untuk blok bauksit Karlapat pada 7 Agustus, setelah mengajukan premi lelang 175%. Minat RIL pada blok tersebut masih dalam tahap evaluasi, sementara BALCO telah muncul sebagai penawar pilihan.
Gasifikasi batubara dapat menghasilkan gas sintesis untuk pembangkit listrik mandiri dan aplikasi industri, sehingga berpotensi relevan dengan pemurnian alumina dan peleburan aluminium yang padat energi. UNI melaporkan bahwa sumber industri melihat peluang untuk mengintegrasikan kedua bisnis tersebut, meskipun Reliance belum mengonfirmasi rencana produksi aluminium apa pun.
Pada bulan Juli, Adani Enterprises Ltd (AEL) mengumumkan rencana investasi sebesar US$11,5 miliar dalam proyek aluminium terpadu di Odisha melalui usaha patungan 50:50 dengan International Resources Holding (IRH) yang berbasis di UEA, menambah gelombang investasi yang lebih luas di sektor aluminium India. Usaha patungan ini diperkirakan mencakup kilang alumina berkapasitas 4 juta ton/tahun, smelter aluminium 2 juta ton/tahun, pembangkit listrik mandiri 4.000 MW, dan kawasan manufaktur hilir 1 juta ton/tahun.
Perkembangan ini muncul dengan latar belakang Vedanta Aluminium, Hindalco Industries, dan NALCO yang terus mendominasi pasar aluminium primer India.
Sumber industri menilai bahwa pendatang baru yang memiliki akses ke bauksit, alumina, listrik, logistik, dan kapasitas hilir dapat membangun posisi terpadu di seluruh rantai nilai. Namun, bagi Reliance, peluang aluminium masih berada pada tahap awal, tanpa ada investasi atau kapasitas produksi yang dikonfirmasi.
![Persediaan Billet Aluminium Menurun, Biaya Pemrosesan Turun di Tengah Pemulihan Harga dan Pertumbuhan Pasokan[Analisis SMM]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/BCdNp20251217171653.jpg)
![Stok Billet Aluminium Turun ke 139.500 mt, Penarikan Gudang Pulih, Biaya Pemrosesan Tertekan di Seluruh Lini [SMM Analysis]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/yOYEC20251217171653.jpg)

