Pada 2026, pasar kendaraan energi baru (NEV) Korea Selatan memasuki fase pemulihan. Penjualan NEV tahunan negara tersebut meningkat dari 990.000 unit pada 2022 menjadi 1,68 juta unit pada 2025, dengan penjualan 2025 naik 22% YoY. Penjualan bulanan pada Januari–April 2026 juga secara umum melampaui level pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, tingkat penetrasi NEV Korea Selatan melonjak dari 46% pada Desember 2025 menjadi 62% pada Februari 2026, 59% pada Maret, dan 60% pada April, menandakan pasar telah sedikit pulih dari titik rendah akhir 2025.
Namun, pemulihan pasar NEV Korea Selatan saat ini lebih mirip rebound hibrida yang ditopang permintaan HEV, bukan siklus pertumbuhan tinggi yang sepenuhnya didorong BEV. Selama Februari–April 2026, pangsa BEV pulih ke kisaran 35%–39%, tetapi HEV masih menyumbang 58%–63% struktur penjualan NEV, mempertahankan posisinya sebagai jenis penggerak terbesar. Ini mencerminkan konsumen tetap sensitif terhadap harga EV, kemudahan pengisian daya, keamanan baterai, dan nilai residu kendaraan. Oleh karena itu, pasar NEV Korea Selatan 2026 lebih tepat dipandang sebagai fase transisi dengan HEV tetap menjadi basis permintaan inti, sementara BEV menjalani proses pemulihan bertahap.
Sinyal pemulihan di pasar EV Korea Selatan juga perlu ditafsirkan secara hati-hati. Peningkatan penjualan terkini tidak serta-merta menandakan pemulihan langsung permintaan bagi OEM domestik Korea Selatan, karena penjualan domestik dipengaruhi banyak faktor termasuk struktur model mobil, penyesuaian harga, kebijakan subsidi, peluncuran model baru, dan persaingan dari EV impor. Lebih lanjut, seiring OEM Korea Selatan terus melokalisasi produksi EV di pasar utama seperti Amerika Utara dan Eropa, volume EV yang diproduksi dan diekspor dari Korea Selatan perlahan menjadi indikator yang kurang langsung bagi momentum penjualan EV global. Karena itu, dalam menilai pasar EV Korea Selatan, kita tidak bisa hanya mengandalkan volume ekspor, tetapi juga mempertimbangkan faktor seperti tingkat penetrasi BEV domestik, struktur model mobil, persaingan EV impor, dan jejak produksi regional.
Di saat bersamaan, ESS menjadi kanal pertumbuhan yang lebih jelas bagi perusahaan baterai Korea Selatan. Secara domestik, pertumbuhan permintaan listrik, koneksi jaringan energi terbarukan, dan kemacetan jaringan lokal meningkatkan pentingnya ESS dalam infrastruktur ketenagalistrikan. Target LDES Korea Selatan diperkirakan meningkat dari 2,22 GW pada 2029 menjadi 23 GW pada 2038, sementara permintaan yang didorong kebijakan melalui pasar kontrak terpusat mulai terwujud. Putaran pertama pasar kontrak terpusat telah mengonfirmasi 563 MW, dan putaran kedua diperkirakan akan ditutup pada skala hingga 565 MW.
Perusahaan baterai Korea Selatan besar juga memperluas eksposur bisnis ESS mereka. Untuk beberapa perusahaan, pendapatan ESS sebagai bagian dari total pendapatan naik ke kisaran pertengahan 20% pada 1Q26, terutama didukung oleh permintaan ESS di Amerika Utara dan ekspansi kapasitas. Perusahaan lain semakin memperkuat fondasi bisnis ESS mereka melalui kontrak pasokan baterai ESS di AS, kontrak baterai LFP untuk ESS, serta proyek pasar kontrak terpusat domestik di Korea Selatan. Secara khusus, proyek ESS skala utilitas di Amerika Utara dan permintaan listrik terkait AI serta pusat data diperkirakan akan tetap menjadi saluran pertumbuhan penting di luar Tiongkok bagi perusahaan baterai Korea Selatan.
Kesimpulannya, pertanyaan inti untuk pasar elektrifikasi Korea Selatan pada tahun 2026 bukan hanya apakah penjualan telah pulih, melainkan kualitas pemulihan tersebut. Pertumbuhan kendaraan energi baru (NEV) yang dipimpin oleh HEV dapat menyokong batas bawah pasar dalam jangka pendek, tetapi untuk dapat menghasilkan permintaan baterai yang lebih kuat, komposisi BEV masih harus mencapai ekspansi yang lebih stabil. Pada saat yang sama, semakin sulit untuk mengukur fundamental perusahaan baterai Korea Selatan hanya melalui data penjualan dan ekspor EV. Ekspansi LFP untuk ESS dan momentum proyek skala utilitas di Amerika Utara menjadi sinyal pertumbuhan yang lebih langsung. Dua variabel yang perlu dicermati pada paruh kedua tahun ini: sejauh mana pemulihan NEV berdampak pada permintaan BEV, dan apakah ESS dapat secara efektif mengimbangi fluktuasi permintaan EV.



