Menurut Ketua FINI, Arif Perdanakusumah, industri nikel Indonesia menghadapi tekanan yang meningkat seiring pasokan bijih domestik yang masih tidak mampu mengimbangi ekspansi cepat kapasitas smelter, mendorong beberapa smelter mengeluarkan peringatan potensi penghentian operasi. Dia menyatakan bahwa dengan ratusan smelter yang masih memperluas produksi, kebutuhan kuota pertambangan melonjak, namun langkah pemerintah mempersingkat masa berlaku kuota pertambangan RKAB dari tiga tahun menjadi hanya satu tahun semakin memperketat pasokan domestik. Pergeseran kebijakan ini, ditambah dengan permintaan industri yang semakin cepat, memperlebar kesenjangan antara output pertambangan dan kebutuhan smelter.
Arif mendesak pemerintah untuk memprioritaskan persetujuan RKAB bagi tambang yang berafiliasi dengan smelter serta meningkatkan eksplorasi dan kapasitas teknis pertambangan guna mencegah krisis pasokan struktural. Tanpa perencanaan hulu yang lebih kuat, Indonesia berisiko tetap bergantung pada impor bijih nikel meski memiliki cadangan besar, mengancam ambisi hilir negara di bidang baja tahan karat dan material baterai.


![[SMM Berita Kilat Nikel] Pembaruan Harian — 2 September 2026](https://imgqn.smm.cn/usercenter/qLeLR20251217171733.jpg)
