[SMM Aluminum Express News] Penambang bauksit Indonesia menghadapi tekanan ekonomi yang parah karena smelter terus membeli bijih di bawah harga patokan resmi pemerintah, Harga Patokan Mineral (HPM). Praktik ini, ditambah dengan pasar yang kelebihan pasokan, melumpuhkan profitabilitas operasi penambangan.
Menurut Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA), sebagian besar smelter tidak sepenuhnya mematuhi mandat HPM saat membeli bauksit mentah. Hal ini menciptakan dilema bagi penambang: beberapa terpaksa menjual dengan rugi untuk mempertahankan arus kas, sementara yang lain menghentikan produksi karena tidak lagi ekonomis.
Situasi ini diperparah oleh peraturan menteri baru (Kepmen ESDM No. 268/2025) yang menghapus kewajiban transaksi menggunakan HPM sebagai acuan. Meskipun HPM tetap menjadi dasar perhitungan pajak dan royalti negara, pemerintah tidak memberikan sanksi kepada smelter yang membeli di bawah harga ini.
Pendekatan ini memastikan pendapatan negara yang stabil, tetapi penambang, yang diwakili oleh Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), berargumen bahwa hal ini menciptakan kesenjangan yang merusak. Mereka telah secara resmi memprotes kebijakan tersebut, memperingatkan bahwa hal itu membuka pintu bagi harga jual yang tidak adil dan merusak kesehatan industri pertambangan domestik.

![Alumina Mundur Setelah Kenaikan Cepat dengan Konsolidasi Volume Menyusut; Indeks Spot Berhenti Turun dan Naik Tipis; Pola Pasokan Kuat dan Permintaan Lemah Tidak Berubah [Komentar Pagi Alumina SMM]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/SBQYr20251217171651.jpg)
![SHFE aluminium terus menguat, selisih harga Guangdong-Shanghai yang signifikan menarik perpindahan kargo [Tinjauan Tengah Hari Aluminium Spot SMM]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/VTjoW20251217171653.jpg)
