Kongo melarang ekspor konsentrat tembaga dan kobalt, demikian perintah resmi.
Menurut Reuters, pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) telah mengumumkan larangan segera ekspor konsentrat tembaga dan kobalt sebagai bagian dari upaya mendorong pemrosesan mineral dalam negeri dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineralnya. Menurut perintah pemerintah yang diperoleh Reuters, larangan itu ditandatangani pada 29 Juni oleh Menteri Pertambangan, Menteri Perdagangan Luar Negeri, dan Menteri Perekonomian, serta secara tegas melarang ekspor konsentrat tembaga dan kobalt. Pada saat yang sama, DRC memperkenalkan rezim pajak baru untuk produk sampingan tambang yang bernilai ekonomi signifikan guna meningkatkan pendapatan sektor pertambangannya. Rezim pajak baru ini mencakup masa transisi tiga bulan, sementara larangan ekspor langsung berlaku. Dalam keadaan "strategis", Menteri Pertambangan dapat memberikan pengecualian ekspor hingga satu tahun. Sebagai produsen kobalt terbesar di dunia dan pemasok tembaga terbesar kedua, langkah DRC ini diperkirakan akan berdampak pada perusahaan-perusahaan pertambangan besar yang beroperasi di negara tersebut, termasuk CMOC, Glencore, Huayou Cobalt, Zijin Mining, Ivanhoe Mines, dan Eurasian Resources Group.