Ringkasan Eksekutif
Indonesia saat ini sedang menghadapi gabungan gangguan pasokan akibat iklim, yang paling signifikan adalah kekurangan air akibat El Niño yang memengaruhi Kawasan Industri Morowali Indonesia (IMIP) dan koridor batu bara Kalimantan yang lebih luas. Meskipun produsen baja IMIP telah menyerap sebagian dampaknya, produsen batu bara kokas dan kokas terkena dampak yang jauh lebih besar, mengingat sifat proses kokas yang intensif air.
SMM menilai bahwa El Niño mencapai intensitas puncak pada Agustus 2026, dengan indeks Niño 3.4 mendekati 3,0 — angka yang konsisten dengan episode "sangat kuat". Curah hujan di Kalimantan dan daerah tangkapan air IMIP tetap tertekan pada 0–50 mm hingga September, yang telah membatasi produksi batu bara kokas (diperkirakan turun 30–40 persen, dengan beberapa perkiraan menunjukkan kekurangan lebih dari 40 persen karena kurangnya air dalam proses kokas) dan logistik berbasis sungai, sebagaimana tercermin dari ketinggian air Sungai Barito sebesar 0,6 meter dibandingkan kisaran normal 5,0–11,5 meter.
Mengingat batu bara kokas menyumbang sekitar 30% dari biaya produk baja jadi dengan rasio input tipikal 4:2:1 (bijih besi:batu bara kokas:batu kapur), dan bahwa produksi kokas domestik dilaporkan turun sekitar 40% dari tingkat normal, tekanan dorongan biaya yang dihasilkan — diperkuat oleh kenaikan harga batu bara kokas secara paralel di Tiongkok — telah mendorong repricing berkelanjutan pada HRC Indonesia. HRC FOB Indonesia telah naik dari titik terendah dua bulan sebesar 495 USD/ton pada 7 Agustus menjadi 525 USD/ton pada 2 September, sebelum sedikit mereda menjadi 520 USD/ton karena persediaan pembeli mencapai titik jenuh. SMM memperkirakan normalisasi curah hujan yang diproyeksikan BMKG mulai Oktober menjadi katalis utama yang menentukan apakah tingkat harga saat ini bertahan atau berbalik turun.
I. Intensitas dan Lintasan El Niño: Indeks Niño 3.4 Menunjuk ke Puncak Agustus, dengan Pemulihan Diperkirakan Mulai Oktober
El Niño mengacu pada pemanasan periodik suhu permukaan laut di Pasifik ekuator tengah dan timur, yang didorong oleh melemahnya angin pasat timur dan pergeseran Sirkulasi Walker ke arah timur yang sesuai. Pergeseran ini menekan pembentukan awan konvektif di kepulauan Indonesia dan mengurangi curah hujan regional. Indeks Niño 3.4 — yang melacak anomali suhu permukaan laut di sekitar 5°LU–5°LS, 170°BB–120°BB — merupakan metrik acuan standar yang digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan episode.
Sumber: BMKG, SMM
Sumber: BMKG
Menurut data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia dan SMM, dampak El Niño yang terukur mulai terasa di Indonesia sekitar April 2026, ketika indeks masih berada dalam klasifikasi "lemah". Indeks kemudian meningkat tajam, mencapai puncaknya pada Agustus 2026 pada level mendekati 3,0 — yang mengindikasikan peristiwa "sangat kuat". Per September 2026, kondisi masih tergolong sebagai ancaman signifikan bagi wilayah penghasil batu bara, dengan curah hujan di sekitar Pulau Kalimantan dan daerah tangkapan air IMIP masih hanya berkisar 0–50 mm. Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., Kepala BMKG, menyatakan bahwa September merupakan puncak yang diperkirakan dari episode El Niño saat ini, dengan transisi menuju pola curah hujan yang lebih normal diperkirakan dimulai pada Oktober seiring bergesernya pola iklim yang lebih luas.
Sumber: BMKG
II. Dampak Operasional pada Produsen Batu Bara: Produksi dan Logistik di Bawah Tekanan Simultan
Gangguan sisi produksi
Dedy Kurniawan, Kepala Departemen Media PT IMIP, telah mengonfirmasi bahwa ketersediaan air di dalam kawasan industri kini mengalami kekurangan. Air merupakan input penting di berbagai tahap rantai nilai IMIP, termasuk proses High Pressure Acid Leach (HPAL) yang digunakan dalam peleburan nikel, produksi kokas, dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang mendukung operasional kawasan. Menurut keterangan Kurniawan, kekurangan akibat El Niño diperkirakan akan menurunkan produksi sekitar 30–40% dari level normal, dengan beberapa sumber industri menyebutkan penurunan dapat melebihi 40% — menegaskan peran besar air dalam mempertahankan volume produksi.
Gangguan sisi logistik
Dampaknya meluas hingga ke luar gerbang pabrik. Menurunnya permukaan air sungai secara langsung membatasi logistik tongkang dan kapal, dinamika yang juga disoroti oleh Kurniawan. Dampak paling parah terjadi di Kalimantan, yang menyimpan sekitar 69,3% dari total sumber daya batu bara Indonesia dan berfungsi sebagai asal pengiriman utama batu bara yang didistribusikan ke seluruh negeri. Data logistik terkini menunjukkan penurunan 21,4% muatan yang diangkut per perjalanan, karena kapal tidak dapat memuat hingga kapasitas normal akibat berkurangnya kedalaman alur. Hal ini mulai mendorong naiknya biaya logistik — dan pada gilirannya, harga batu bara. Secara terpisah, Sungai Barito, jalur logistik utama terutama untuk batu bara, saat ini berada pada ketinggian air sekitar 0,6 meter, dibandingkan rentang normal 5,0–11,5 meter — kekurangan yang secara material membatasi pergerakan kapal dan diperkirakan akan memberikan tekanan naik lebih lanjut pada biaya angkut dan harga batu bara.
III. Bobot Struktural Batu Bara Kokas dalam Biaya Baja: Mengapa Kekurangan Air Menjadi Peristiwa Harga Baja
Untuk memproduksi produk baja jadi — produk panjang, datar, maupun tubular — diperlukan tiga input bahan baku utama: bijih besi (bahan baku mengandung besi), batu bara kokas (digunakan sebagai bahan bakar dalam proses pembuatan besi), dan batu kapur (digunakan sebagai fluks). Input ini biasanya dikombinasikan dalam rasio perkiraan 4:2:1, yang berarti batu bara kokas saja menyumbang sekitar 30% dari biaya produk baja jadi.
Sumber: SMM
Yang krusial, produksi kokas sendiri sangat intensif air. Air digunakan di bagian awal proses untuk mencuci batu bara mentah dan menghilangkan kotoran, dan kembali di bagian akhir, di mana kokas — yang dipanggang pada suhu sekitar 1.000°C — harus didinginkan dengan air sebelum dapat ditangani dan diangkut. Kekurangan air yang berkepanjangan karenanya secara langsung membatasi output kokas, terlepas dari kendala apa pun pada penambangan batu bara itu sendiri.
Transportasi memperparah paparan risiko. Pabrik baja, seperti halnya produsen kokas, mengandalkan pengiriman melalui sungai untuk memindahkan bahan baku dan produk jadi. Jika permukaan air turun di bawah ambang batas operasional, produsen Indonesia menghadapi risiko serupa dengan gangguan yang sebelumnya dialami di pabrik thyssenkrupp di Duisburg, Jerman, di mana rendahnya permukaan air Sungai Rhine memaksa produsen mengurangi produksi daripada menerima keterlambatan logistik yang berkepanjangan. Dinamika ini juga berkontribusi pada sentimen pasar yang secara umum bullish, yang pada gilirannya memperlambat aktivitas perdagangan secara keseluruhan karena para pelaku pasar menilai ulang arah harga jangka pendek.
Berdasarkan kondisi saat ini, produksi kokas domestik diperkirakan turun lebih dari 40% dari output normal. Mengingat bobot batu bara kokas sekitar 30% dalam biaya baja jadi, dan mengutip data ICI (Indonesian Coal Index) yang menunjukkan kenaikan biaya input 5–8%, pabrik baja Indonesia memiliki sedikit alasan komersial untuk menurunkan harga — terlepas dari sentimen pasar yang lebih luas — karena hal itu akan menekan margin pada basis biaya yang sudah tinggi.
IV. Transmisi Harga: Dari Kelangkaan Batu Bara Kokas ke Penetapan Ulang Harga HRC
Reaksi pasar dan perilaku pembeli
Begitu laporan awal kekurangan air beredar, pembeli merespons dengan mempercepat pembelian, didorong oleh permintaan lokal yang tangguh dan kekhawatiran bahwa harga akan naik lebih tinggi lagi. Pola pembelian ini memberi keyakinan kepada pabrik untuk menaikkan penawaran bahkan ketika kendala pasokan yang mendasarinya terus menumpuk. Langkah ini diperkuat ketika harga batu bara kokas mulai naik tidak hanya di dalam negeri tetapi juga secara global — termasuk di Tiongkok, yang harga bajanya terus berfungsi sebagai patokan acuan di seluruh kawasan Asia Tenggara. Seiring naiknya biaya batu bara kokas Tiongkok, pabrik Indonesia memperoleh keyakinan tambahan untuk menaikkan penawaran domestik secara paralel.
Respons logistik
Di sisi pengiriman, pabrik telah memperpanjang waktu tunggu hingga Desember 2026 — strategi yang disengaja untuk mengelola kekurangan saat ini tanpa harus melakukan putaran kenaikan harga lebih lanjut begitu cepat setelah kenaikan baru-baru ini. Setelah menaikkan harga secara material dalam rentang dua minggu, pabrik menilai kenaikan berulang tidak berkelanjutan secara komersial dalam jangka pendek; menunda pengiriman hingga Desember sejalan dengan panduan BMKG bahwa permukaan air seharusnya sudah normal pada saat itu.
Sumber: SMM
Mensintesis perkembangan pasar ini, urutannya menunjukkan mekanisme transmisi tiga tahap yang jelas: (1) dukungan harga awal dari berita utama kekurangan air, (2) akselerasi ketika harga batu bara kokas global — dan khususnya Tiongkok — naik secara paralel, memperkuat keyakinan pabrik, dan (3) fase stabilisasi ketika pembeli dengan stok yang cukup mundur dari pasar karena pembeli menunjukkan resistensi terhadap kenaikan harga lebih lanjut.
V. Prospek: Kebuntuan antara Margin Pabrik dan Inventaris Pembeli
Pandangan utama SMM adalah bahwa kekurangan air bukanlah penyebab langsung kenaikan harga baja, melainkan pemicu di hulu: ketersediaan air yang terbatas mengurangi output kokas dan batu bara kokas, dan inflasi biaya yang dihasilkan — yang menyumbang sekitar 30% dari kenaikan biaya HRC — telah diteruskan ke harga baja jadi. Hal ini diperparah oleh kenaikan paralel harga batu bara kokas Tiongkok yang berasal dari kendala produksi di Tiongkok, yang memberikan pabrik Indonesia justifikasi tambahan berbasis sentimen untuk menaikkan penawaran.
Pembeli, di sisi lain, tampaknya sebagian besar telah mengantisipasi langkah tersebut: dengan inventaris yang kini terisi baik setelah pembelian preventif, urgensi jangka pendek untuk bertransaksi lebih lanjut pada level tinggi saat ini terbatas. Hal ini menghasilkan pasar yang bullish tetapi semakin tanpa arah, dengan para pelaku pasar secara efektif menunggu pihak mana yang bergerak lebih dulu — pabrik menekan margin untuk merangsang permintaan, atau pembeli menerima level harga saat ini untuk mengamankan volume yang dibutuhkan. SMM mengkarakterisasi ini sebagai efek berjenjang, atau "domino": guncangan iklim diskret (kelangkaan air) merambat secara berurutan melalui produksi kokas, biaya batu bara kokas, strategi penetapan harga pabrik, dan akhirnya perilaku pembelian pembeli

Sumber: SMM
Variabel kunci yang perlu dipantau
-
Waktu normalisasi curah hujan — transisi yang diproyeksikan BMKG mulai Oktober 2026 adalah katalis utama; keterlambatan apa pun akan memperpanjang tekanan dorongan biaya saat ini hingga kuartal IV.
-
Ketinggian air Sungai Barito — pemulihan berkelanjutan menuju rentang normal 5,0–11,5 meter merupakan prasyarat agar biaya logistik mereda.
-
Arah harga batu bara kokas Tiongkok — kenaikan berkelanjutan akan memperkuat saluran sentimen yang mendukung penetapan harga pabrik Indonesia; pembalikan arah akan menghilangkan pilar utama dukungan harga saat ini.
-
Perilaku pengisian ulang stok pembeli — kecepatan pembeli dengan stok yang cukup kembali ke pasar akan menentukan apakah level harga saat ini (515–525 USD/ton FOB) bertahan atau terkoreksi.
-
Eksekusi pengiriman hingga Desember — kemampuan pabrik untuk memenuhi komitmen pengiriman yang ditunda akan menjadi sinyal penting apakah kendala sisi pasokan mereda sesuai jadwal.
Pernyataan Sumber Data: Analisis dihimpun dari pernyataan publik BMKG dan PT IMIP, data harga pasar SMM, dan referensi ICI (Indonesian Coal Index). Angka-angka hanya untuk referensi dan bukan merupakan rekomendasi investasi atau perdagangan.
![[Ringkasan Bijih Besi Domestik] Harga di wilayah Liaodong kemungkinan akan stabil](https://imgqn.smm.cn/usercenter/exdqc20251217171717.jpg)

![[SMM Lembaran & Pelat Ringkasan Harian] Sisi biaya kuat, permintaan moderat, harga HRC konsolidasi di level tinggi](https://imgqn.smm.cn/usercenter/ocJKj20251217171717.jpg)