Menurut data bea cukai Indonesia terbaru, perdagangan sulfur dan asam sulfat Indonesia pada Juni 2026 menunjukkan perbedaan yang signifikan. Impor sulfur turun secara tahunan tetapi pulih secara bulanan, sementara impor asam sulfat melonjak tajam baik secara tahunan maupun bulanan. Ekspor sulfur naik signifikan secara bulanan, sedangkan ekspor asam sulfat tetap nol.
Ringkasan:
- Impor sulfur: 336.900 ton, naik 21% secara bulanan, turun 26% secara tahunan. Pemasok utama: Kanada, Arab Saudi, Kazakhstan, Malaysia, Singapura, Taiwan (Tiongkok), Jepang, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
- Ekspor sulfur: 54.800 ton, naik tajam baik secara bulanan maupun tahunan. Tujuan utama: Malaysia, Tiongkok, Timor Leste, dan Jerman.
- Impor asam sulfat: 111.200 ton, naik 101% secara bulanan dan 150% secara tahunan. Pemasok utama: Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.
- Ekspor asam sulfat: Nol.
I. Impor Sulfur: Turun 26% YoY, Naik 21% MoM
Pada Juni, impor sulfur Indonesia (termasuk sulfur alami dan sulingan) total sekitar 334.700 ton, turun 26% dari 454.800 ton pada bulan yang sama tahun lalu, tetapi naik 21% dari 277.800 ton pada Mei 2026. Pelabuhan penerima utama, berdasarkan volume:
- Pulau OBI: Pusat penerimaan terbesar, dengan sekitar 177.600 ton, terutama berasal dari Kanada, Kazakhstan, Arab Saudi, dan Taiwan (Tiongkok).
- MOROWALI: Sekitar 76.400 ton, terutama berasal dari Kanada, Malaysia, dan Singapura.
- TANJUNG PERAK: Sekitar 19.300 ton, terutama berasal dari Korea Selatan, Oman, Arab Saudi, Inggris, dan Amerika Serikat.
- TANJUNG PRIOK: Sekitar 9.927 ton, terutama berasal dari Tiongkok, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Arab Saudi, dan Vietnam.
- TERMINAL FUTONG: Sekitar 8.003 ton, semuanya dari Vietnam.
- MERAK: Sekitar 2.450 ton, semuanya dari Jepang.
- BELAWAN: Sekitar 397 ton, terutama berasal dari Tiongkok, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan (Tiongkok), dan Turki.
Berdasarkan negara asal, pemasok utama adalah: Kanada (sekitar 132.000 ton, pemasok terbesar bulan ini), Arab Saudi (sekitar 108.670 ton, peringkat kedua), Kazakhstan (sekitar 39.944 ton), Singapura (sekitar 10.701 ton), Malaysia (sekitar 10.768 ton), Taiwan (Tiongkok) (sekitar 10.051 ton), Jepang (sekitar 8.869 ton), Vietnam (sekitar 8.013 ton), Korea Selatan (sekitar 3.575 ton), dan Filipina (sekitar 2.100 ton). Ekspor sulfur Tiongkok ke Indonesia pada Juni hanya sekitar 257 ton, kontraksi tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.


II. Impor Asam Sulfat: Naik 150% YoY, Naik 101% MoM
Pada Juni, impor asam sulfat Indonesia (konsentrasi >80%) total sekitar 111.200 ton, naik 150% dari 44.500 ton pada bulan yang sama tahun lalu, dan naik 101% dari 55.300 ton pada Mei 2026. Impor terutama ditujukan ke pusat proyek peleburan nikel, berdasarkan volume:
- Pulau OBI: Sekitar 47.300 ton, terutama berasal dari Jepang dan Korea Selatan.
- WEDA: Sekitar 42.900 ton, terutama berasal dari Tiongkok dan Korea Selatan.
- GRESIK: Sekitar 10.500 ton, semuanya dari Jepang.
- LHOK SEUMAWE: Sekitar 10.500 ton, semuanya dari Jepang.
- TANJUNG PRIOK: Sekitar 1 ton.
Berdasarkan negara asal, Korea Selatan adalah pemasok asam sulfat terbesar ke Indonesia pada Juni (sekitar 52.900 ton), diikuti oleh Jepang (sekitar 39.300 ton) dan Tiongkok (sekitar 19.000 ton).
III. Ekspor Sulfur: Naik Tajam YoY, Naik Signifikan MoM
Pada Juni, ekspor sulfur Indonesia total sekitar 54,8 ton, naik tajam dari hanya 1 ton pada bulan yang sama tahun lalu dan naik signifikan dari 24 ton pada Mei 2026.
- Malaysia adalah tujuan terbesar, menerima sekitar 44 ton, atau sekitar 80% dari total ekspor.
- Tiongkok adalah tujuan terbesar kedua, menerima sekitar 10,5 ton, atau sekitar 19%.
- Volume kecil sulfur sulingan dikirim ke Timor Leste (285 kg) dan Jerman (6,12 kg).
Selain itu, Indonesia mencatatkan ekspor asam sulfat nol pada Juni, konsisten dengan tren yang terlihat pada periode yang sama tahun lalu dan Mei tahun ini.
IV. Kesimpulan
Pada Juni 2026, impor sulfur Indonesia mencapai 334.700 ton, turun 26% secara tahunan tetapi naik 21% secara bulanan, dengan Kanada dan Arab Saudi sebagai dua negara pemasok terbesar. Impor asam sulfat melonjak 150% secara tahunan dan 101% secara bulanan menjadi 111.200 ton, dengan Korea Selatan sebagai pemasok terbesar dan Pulau OBI serta WEDA sebagai dua pusat penerimaan utama. Ekspor sulfur naik signifikan secara bulanan menjadi 54,8 ton, terutama menuju Malaysia dan Tiongkok, sementara ekspor asam sulfat tetap nol selama beberapa bulan berturut-turut.
![[Analisis SMM] Produksi Anoda pada Juli Meningkat Stabil, Didorong oleh Dua Pendorong Permintaan EV dan ESS](https://imgqn.smm.cn/usercenter/hoPFT20251217171727.jpg)
![[SMM Analysis] Industri Katoda Korea Selatan Mencatat Peningkatan Laba Kuartal Kedua, tetapi Pemulihan Volume Masih Terbatas](https://imgqn.smm.cn/usercenter/ZLcBf20251217171731.jpg)

