【Berita Kilat Aluminium SMM】Inggris Hadapi Tantangan Mempertahankan Nilai Aluminium Daur Ulang di Tengah Risiko Pasokan Global
Aluminium sering digambarkan sebagai salah satu material industri yang paling dapat didaur ulang, dan Inggris telah memiliki sebagian besar infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung ekonomi aluminium sirkular. Sistem pengumpulan sudah mapan, tingkat daur ulang tinggi, dan kapasitas peleburan ulang tersedia di seluruh rantai pasok. Menurut Nadine Bloxsome, CEO Aluminium Federation (ALFED), tantangannya bukan lagi tentang apakah aluminium dapat didaur ulang, melainkan apakah Inggris cukup mempertahankan nilai yang tercipta dari material daur ulang tersebut. ALFED memperkirakan bahwa mendaur ulang aluminium memerlukan energi hingga 95 persen lebih sedikit dibandingkan memproduksi logam primer, menjadikannya kontributor penting bagi daya saing industri serta ambisi nol-bersih negara. Meskipun demikian, Inggris masih sangat bergantung pada aluminium primer impor. Sekitar 68.000 ton diimpor dari UEA, Bahrain, Oman, Qatar, dan Arab Saudi selama tahun 2025. Ketegangan geopolitik dan gangguan yang memengaruhi operasi peleburan padat energi di kawasan itu telah menyoroti risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri. Inggris menghasilkan aluminium bekas dalam jumlah besar setiap tahun, namun sebagian besar material justru meninggalkan negara alih-alih diproses secara lokal. Ekspor aluminium bekas ke Amerika Serikat meningkat dari sekitar 2.000 ton pada 2024 menjadi lebih dari 23.000 ton pada 2025, sementara total ekspor dengan Kode HS 7602 naik dari sekitar 612.000 ton menjadi lebih dari 623.000 ton. Pada tahun yang sama, Inggris juga mengimpor sekitar 90.000 ton aluminium bekas, yang menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kelangkaan material, melainkan di mana material itu diproses dan di mana nilai akhirnya tercipta.