[Berita Kilat Nikel SMM] Kebijakan Kuota RKAB Indonesia Tetap Menjadi Pendorong Utama Pasar Nikel
APNI melaporkan bahwa smelter domestik Indonesia mengkonsumsi 120,6 juta wmt bijih nikel selama Januari–Juni 2026, setara dengan 46,2% dari kuota RKAB 2026 sebesar 260–270 juta wmt, menyoroti permintaan hilir yang lebih lemah menjelang batas waktu revisi RKAB pada 31 Juli.
Sementara itu, menurut SMM, menjelang musim hujan di akhir kuartal ketiga dan keempat, operasi penambangan dan transportasi bijih diperkirakan akan menghadapi gangguan, sehingga semakin sulit bagi produsen untuk memanfaatkan sepenuhnya alokasi RKAB mereka. Bahkan jika kuota ditingkatkan secara moderat menjadi 280–300 juta wmt, produksi aktual mungkin masih di bawah volume yang disetujui karena kendala cuaca.
Lebih lanjut, smelter terintegrasi mungkin masih menghadapi defisit pasokan bijih dengan sumber alternatif yang terbatas, karena impor dari Filipina diperkirakan akan menurun menjelang akhir tahun. Oleh karena itu, prospek pasar secara keseluruhan tetap netral hingga sedikit bullish, tergantung pada hasil persetujuan RKAB, kondisi cuaca, dan volume impor.