[Analisis SMM] Transisi Energi Indonesia Berakselerasi: Dari Target Kebijakan ke Penerapan Nyata

Telah Terbit: Jun 19, 2026 18:02
Dalam beberapa tahun terakhir, transisi energi Indonesia menunjukkan tanda-tanda percepatan yang jelas. Seiring dengan penetapan target energi terbarukan yang lebih ambisius oleh pemerintah, serta terus berlanjutnya dekarbonisasi pertambangan, peningkatan sistem tenaga listrik di pulau-pulau, pengembangan proyek PLTS terapung, dan pengembangan manufaktur lokal, potensi pertumbuhan jangka panjang pasar PLTS, penyimpanan energi, dan microgrid di Indonesia semakin terbuka lebar.

Dalam beberapa tahun terakhir, transisi energi Indonesia menunjukkan tanda-tanda percepatan yang jelas. Seiring dengan pemerintah yang menetapkan target energi terbarukan yang lebih ambisius, serta berlanjutnya dekarbonisasi pertambangan, peningkatan sistem kelistrikan berbasis pulau, pengembangan proyek PLTS terapung, dan pembangunan manufaktur lokal, potensi pertumbuhan jangka panjang pasar PLTS, penyimpanan energi, dan microgrid di Indonesia semakin terbuka.

Pada Konferensi Mineral Penting Indonesia (ICM) dan Forum Transisi Energi dan Batubara baru-baru ini, SMM bertukar pandangan dengan perusahaan PLTS lokal, penyedia solusi penyimpanan energi dan sistem energi, perusahaan terkait pertambangan, asosiasi industri, serta perwakilan dari perusahaan listrik negara PLN. Berdasarkan diskusi ini, SMM memahami bahwa transisi energi Indonesia tidak hanya didorong oleh target pemasangan PLTS. Sebaliknya, transisi ini perlahan bergerak dari perencanaan kebijakan menuju skenario aplikasi konkret. Transisi energi pertambangan, skenario jaringan lemah dan off-grid, PLTS terapung, manufaktur modul lokal, sistem penyimpanan energi, serta permintaan akan listrik hijau dan manajemen karbon menjadi tema utama di pasar energi terbarukan Indonesia.

Target kebijakan yang jelas, namun pelaksanaan jangka pendek masih terkendala oleh kondisi jaringan dan mekanisme proyek

Dari perspektif kebijakan, pemerintah Indonesia meningkatkan dukungannya terhadap energi terbarukan. Baik dilihat dari target pemasangan PLTS jangka panjang maupun rencana pengembangan kelistrikan terkait PLN, Indonesia berupaya memperbaiki struktur energinya melalui tenaga surya, tenaga air, panas bumi, tenaga angin, dan penyimpanan energi, sambil secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar fosil tradisional.

Namun, berdasarkan umpan balik pasar saat ini, transisi energi Indonesia masih berada pada tahap 'target yang jelas, pelaksanaan yang hati-hati'. Indonesia merupakan negara kepulauan yang khas. Jaringan listrik utamanya terutama mencakup Jawa dan Bali, sementara banyak pulau lain masih lebih bergantung pada microgrid, sistem listrik captive, atau generator diesel. Menghubungkan pulau-pulau terpencil atau kawasan pertambangan secara penuh ke jaringan utama akan melibatkan biaya konstruksi yang tinggi serta kehilangan transmisi dan distribusi yang signifikan. Akibatnya, kondisi jaringan menjadi salah satu kendala praktis utama yang mempengaruhi pelaksanaan proyek energi terbarukan di Indonesia.

Pada saat yang sama, persetujuan proyek, koordinasi lahan, kondisi pembiayaan, mekanisme PPA, persyaratan konten lokal, dan kecepatan pelaksanaan proyek PLN juga mempengaruhi kemajuan aktual proyek PLTS dan penyimpanan energi. Beberapa perusahaan percaya bahwa potensi pasar jangka menengah hingga panjang Indonesia jelas, namun pasar kemungkinan tidak akan melihat peningkatan instalasi yang sederhana dan cepat dalam jangka pendek. Implementasi proyek masih memerlukan koordinasi antara kebijakan, infrastruktur jaringan listrik, pembiayaan, dan permintaan pengguna akhir.

Transisi energi pertambangan menjadi skenario permintaan tambahan yang paling pasti

Dibandingkan dengan proyek PLTS darat biasa, skenario konsumsi listrik pertambangan dan industri menjadi arah yang lebih logis secara komersial dalam transisi energi Indonesia. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang melimpah seperti nikel, tembaga, bauksit, silika, dan lainnya. Proyek pertambangan dan peleburan seringkali berlokasi di Sulawesi, Kalimantan, dan daerah lain yang infrastruktur jaringan listriknya relatif lemah. Beberapa area pertambangan telah lama mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara, diesel, atau pembangkit listrik captive, yang mengakibatkan biaya listrik tinggi, sekaligus menghadapi volatilitas harga energi tradisional dan tekanan emisi karbon.

Berdasarkan diskusi dengan perusahaan, transisi energi di pertambangan bukan lagi hanya persyaratan lingkungan. Hal ini juga terkait erat dengan keamanan energi, pengendalian biaya, daya saing ekspor, dan akses pelanggan hilir. Bagi perusahaan logam kritis seperti nikel dan tembaga, jejak karbon produk, persyaratan ESG, persyaratan paspor baterai, dan potensi biaya karbon semuanya dapat menjadi kendala penting saat mengekspor ke Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan pasar lainnya. Jika perusahaan pertambangan dapat meningkatkan pangsa konsumsi listrik hijau mereka, mereka akan mampu mengurangi emisi karbon per unit produk dan meningkatkan daya saing di rantai pasok internasional.

Dengan latar belakang ini, solusi gabungan yang melibatkan PLTS, tenaga angin, penyimpanan energi, cadangan diesel, dan sistem kontrol mikrogrid menjadi jalur penting untuk transisi energi pertambangan. Di area dengan jaringan lemah atau off-grid, sistem angin-surya-penyimpanan tidak hanya dapat mengurangi biaya listrik rata-rata keseluruhan, tetapi juga meningkatkan stabilitas pasokan listrik dan mengurangi ketergantungan perusahaan pertambangan pada diesel dan jaringan eksternal.

Mikrogrid dan penyimpanan energi merupakan pendukung utama pengembangan energi terbarukan Indonesia

Tantangan transisi energi Indonesia bukan sekadar 'berapa banyak kapasitas PLTS yang harus dibangun,' tetapi bagaimana memastikan energi terbarukan dapat beroperasi secara stabil dalam kondisi jaringan yang kompleks. Karena pulau-pulau yang tersebar, struktur beban yang kompleks, dan kekuatan jaringan yang tidak memadai di beberapa daerah, hanya mengandalkan modul PV tidak dapat menyelesaikan semua masalah. Sistem penyimpanan energi, PCS, EMS, inverter, transformator, dan kemampuan penjadwalan cerdas akan sangat penting untuk menentukan apakah suatu proyek dapat beroperasi secara stabil.

SMM meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi pengembangan energi terbarukan yang signifikan, tetapi struktur jaringannya relatif kompleks. Banyak proyek tidak dapat diselesaikan hanya dengan memasang satu jenis peralatan saja. Sebaliknya, diperlukan pertimbangan menyeluruh terhadap kesesuaian sistem, stabilitas jaringan, operasi dan pemeliharaan jangka panjang, serta kemampuan pengiriman lokal. Untuk proyek jaringan lemah, microgrid, dan PV terapung, solusi sistem terintegrasi dapat membantu mengurangi masalah kompatibilitas antar peralatan yang berbeda, sekaligus meningkatkan stabilitas sistem dan efisiensi respons layanan.

Pada saat yang sama, SMM mengetahui dari diskusi perusahaan bahwa sistem energi pertambangan Indonesia diperkirakan akan secara bertahap beralih dari pengadaan peralatan tunggal menuju solusi terintegrasi yang menggabungkan 'angin-surya-penyimpanan + AI + manajemen karbon.' Terutama mengingat intermitensi pembangkit angin dan surya, kemampuan AI dapat diterapkan pada prakiraan cuaca, penjadwalan sisi pembangkitan, pencocokan sisi permintaan, dan optimasi operasi sistem, sehingga meningkatkan keekonomian dan stabilitas sistem tenaga baru.

Oleh karena itu, persaingan di pasar energi terbarukan Indonesia di masa depan mungkin tidak lagi hanya berfokus pada harga produk individual seperti modul, inverter, atau baterai penyimpanan. Sebaliknya, persaingan kemungkinan akan bergeser ke arah kemampuan integrasi sistem, adaptasi jaringan lemah, kemampuan O&M jangka panjang, dan kapasitas pengiriman lokal.

PV terapung diperkirakan akan menjadi skenario aplikasi khas di Indonesia

Selain transisi energi pertambangan, PV terapung merupakan arah penting lainnya yang layak dipantau di pasar Indonesia. Indonesia memiliki banyak pulau, sumber daya waduk dan air yang relatif melimpah, dan beberapa daerah juga menghadapi keterbatasan lahan, sehingga memberikan dasar aplikasi yang kuat untuk PV terapung. Dalam beberapa tahun terakhir, implementasi proyek PV terapung skala besar seperti Cirata telah memberikan efek demonstrasi untuk proyek serupa di Indonesia.

Menurut SMM, beberapa proyek PV terapung masih berjalan di Indonesia pada tahun 2026, termasuk proyek terapung Karangkates, dengan skala sekitar 130 MWdc, dan proyek terapung Saguling, dengan skala sekitar 92 MWdc. Proyek-proyek ini melibatkan keringanan TKDN 4.0, mencerminkan kebutuhan pasar PV terapung Indonesia untuk menyeimbangkan persyaratan kebijakan dengan efisiensi eksekusi proyek di tengah kapasitas pasokan lokal, jadwal proyek, dan pemilihan teknologi modul.

Dari sisi permintaan proyek, proyek PV terapung skala besar menuntut persyaratan solusi sistem yang tinggi. Perlu mempertimbangkan efisiensi modul, pemilihan inverter, biaya kabel, sistem terapung, kemudahan O&M, dan stabilitas jangka panjang. Dibandingkan dengan proyek darat biasa, PV terapung menempatkan persyaratan lebih tinggi pada pembangkitan daya per unit area, keandalan peralatan, dan kemampuan integrasi sistem. Maka, modul efisiensi tinggi, inverter sentral, penyimpanan energi, dan solusi O&M cerdas diharapkan memiliki lebih banyak peluang aplikasi dalam proyek semacam itu.

Secara keseluruhan, PV terapung diperkirakan menjadi salah satu skenario aplikasi yang lebih representatif di pasar energi terbarukan Indonesia. Di satu sisi, ini dapat membantu meringankan kendala lahan untuk proyek tertentu. Di sisi lain, ini juga mendukung aplikasi modul efisiensi tinggi dan solusi berbasis sistem di pasar Indonesia. Namun, perluasan proyek ke depan tetap bergantung pada implementasi kebijakan konten lokal, persetujuan proyek, kondisi koneksi jaringan, dan pengaturan pembiayaan.

Persyaratan konten lokal TKDN mendukung manufaktur domestik, tetapi premi biaya tetap signifikan

Tema utama lain dalam transisi energi Indonesia adalah manufaktur lokal. Seiring terus berlanjutnya persyaratan konten lokal TKDN, permintaan modul produksi lokal dari proyek pemerintah Indonesia dan proyek terkait PLN meningkat. Produsen modul lokal memiliki peluang pasar tertentu di proyek pemerintah dan proyek dengan persyaratan konten lokal wajib.

Menurut SMM, beberapa proyek pemerintah Indonesia dan proyek terkait PLN diharapkan secara bertahap memasuki tahap eksekusi pada 2026, dengan sekitar 1,2 GW permintaan proyek yang erat terkait dengan persyaratan konten lokal TKDN 4.0. Karena proyek ini memerlukan modul yang memenuhi persyaratan TKDN, permintaan modul terlokalisasi masih terutama didorong oleh proyek pemerintah, proyek PLN, dan skenario aplikasi konten lokal wajib.

Sumber: SMM

Namun, dari segi harga, modul TKDN lokal dihargai jauh lebih tinggi daripada modul impor Cina. Menurut riset SMM, harga modul TKDN untuk proyek di atas 10 MW sekitar 14,5 sen AS per watt, sementara harga untuk proyek skala kecil bisa mencapai sekitar 16 sen AS per watt. Modul dengan kandungan TKDN sekitar 40% biasanya dihargai sekitar 20%-30% lebih tinggi dibandingkan modul impor asal Tiongkok. Premi ini terutama berasal dari biaya manufaktur lokal, dukungan rantai pasok yang kurang memadai, perbedaan efisiensi teknologi, dan mekanisme penetapan harga berbasis kebijakan.

SMM meyakini bahwa modul lokal Indonesia tidak sepenuhnya bersaing langsung dengan modul impor Tiongkok. Sebaliknya, modul tersebut terutama digunakan dalam proyek pemerintah, proyek PLN, dan skenario aplikasi dengan persyaratan kandungan lokal yang ketat. Di masa depan, pasar modul Indonesia mungkin secara bertahap membentuk dua sistem harga: satu sistem harga berbasis pasar yang berpusat pada modul efisiensi tinggi impor, dan sistem harga proyek lokal yang berpusat pada modul TKDN. Untuk pengembangan indeks harga dan riset pasar, membedakan antara harga modul TKDN lokal, harga modul impor, serta selisih harga antara keduanya akan menjadi semakin penting.

Apakah pembatasan TKDN Indonesia merupakan manfaat atau beban?

Tema besar lainnya dalam transisi energi Indonesia adalah manufaktur lokal. Seiring dengan terus meningkatnya persyaratan kandungan lokal TKDN, permintaan modul buatan lokal dari proyek-proyek pemerintah Indonesia dan terkait PLN terus bertambah. Produsen modul lokal memiliki peluang pasar tertentu dalam proyek-proyek pemerintah dan proyek dengan persyaratan kandungan lokal wajib.

Menurut SMM, harga FOB modul TOPCon Tiongkok saat ini sekitar USD0,110 per watt, sementara harga CIF Indonesia untuk modul TOPCon Tiongkok sekitar USD0,114-0,120 per watt. Sebagai perbandingan, harga modul TKDN lokal Indonesia secara keseluruhan jauh lebih tinggi. Modul TOPCon TKDN 25% dihargai sekitar USD0,130 per watt, modul TOPCon TKDN 40% sekitar USD0,150 per watt, dan modul TOPCon dengan kandungan TKDN di atas 40% harganya bisa mencapai sekitar USD0,185 per watt.

Dari segi perbedaan harga, modul TKDN 25% memiliki selisih harga yang relatif terbatas sekitar 5% di atas modul CIF Indonesia asal Tiongkok. Namun, seiring meningkatnya persyaratan kandungan lokal, selisih biaya melebar secara signifikan. Modul TKDN 40% dihargai sekitar 21% lebih tinggi dibandingkan modul CIF Indonesia asal Tiongkok, sementara modul dengan kandungan TKDN di atas 40% sekitar 49% lebih tinggi. Perbedaan ini terutama berakar dari biaya manufaktur lokal, dukungan rantai pasok yang belum memadai, skala produksi yang terbatas, perbedaan efisiensi teknologi, serta mekanisme penetapan harga berbasis kebijakan.

Sumber: SMM

Dalam jangka pendek, persyaratan TKDN dapat membantu meningkatkan tingkat pemanfaatan kapasitas modul lokal di Indonesia, mendukung terbentuknya ekosistem manufaktur lokal yang lebih lengkap meliputi sel surya, modul, kaca, bingkai aluminium, dan bahan pendukung lainnya, serta membantu merestrukturisasi rantai manufaktur PV Indonesia dan sistem ketenagakerjaan lokal.

Namun, dari perspektif ekonomi proyek, pembatasan TKDN juga menimbulkan tantangan biaya-manfaat bagi pengembangan PV Indonesia ke depan. Di satu sisi, persyaratan konten lokal dapat memperkuat kemandirian rantai pasok PV Indonesia, meningkatkan kapabilitas manufaktur domestik, dan memberikan dukungan industri lokal bagi proyek-proyek pemerintah dan PLN. Di sisi lain, harga modul TKDN yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya investasi awal proyek dan dapat memengaruhi harga PPA, masa pengembalian investasi, serta antusiasme pengembang untuk proyek-proyek tertentu.

SMM menilai bahwa modul lokal Indonesia tidak sepenuhnya bersaing langsung dengan modul impor dari Tiongkok. Sebaliknya, modul tersebut terutama digunakan dalam proyek-proyek pemerintah, proyek PLN, dan skenario aplikasi dengan persyaratan konten lokal yang ketat. Ke depan, pasar modul Indonesia mungkin secara bertahap membentuk dua sistem penetapan harga: satu sistem harga berbasis pasar yang berpusat pada modul efisiensi tinggi impor, dan sistem harga proyek lokal lainnya yang berpusat pada modul TKDN. Bagi transisi energi Indonesia, kebijakan TKDN dapat mendukung restrukturisasi rantai manufaktur lokal. Namun, jika premi biaya tetap tinggi dalam jangka waktu lama, hal itu juga dapat menghambat laju penyebaran proyek PV. Oleh karena itu, cara mencapai keseimbangan antara manfaat manufaktur lokal dan biaya pengembangan proyek akan menjadi isu kunci bagi perkembangan pasar PV Indonesia di masa depan.

Dekarbonisasi pertambangan akan mendorong meningkatnya permintaan untuk 'listrik hijau + manajemen karbon'

Dalam rantai pasok logam kritis, signifikansi transisi energi semakin bergeser dari 'mengurangi biaya listrik' menjadi 'mengurangi jejak karbon.' Khususnya selama pengembangan sumber daya mineral seperti nikel, tembaga, silika, dan lainnya, pelanggan akhir mungkin semakin fokus pada sumber listrik, intensitas emisi karbon, dan ketertelusuran produksi bahan baku.

Envision Energy dalam diskusi menekankan bahwa keunggulannya tidak hanya pada penyediaan sistem tenaga hijau, tetapi juga kemampuan manajemen karbon. Melalui sistem manajemen karbon berbasis IoT, perusahaan dapat menghitung emisi karbon ujung-ke-ujung di seluruh proses penambangan, peleburan, dan produksi, serta lebih lanjut mengalokasikan emisi ke jejak karbon setiap unit produk. Dibandingkan dengan perhitungan statis tradisional menggunakan Excel, sistem pelacakan waktu nyata dapat lebih mendukung perusahaan dalam berhubungan dengan lembaga sertifikasi, mempersingkat siklus sertifikasi dan mengurangi biaya sertifikasi.

Bagi perusahaan tambang Indonesia, kemampuan rendah karbon di masa depan tidak hanya mempengaruhi biaya produksi, tetapi juga kemampuan produk memasuki pasar internasional. Seiring dengan meningkatnya persyaratan bahan baku rendah karbon dari perusahaan baterai, otomotif, dan konsumen logam hilir, permintaan perusahaan tambang Indonesia terhadap listrik hijau, penyimpanan energi, manajemen karbon, dan tenaga hijau yang dapat diverifikasi diperkirakan akan terus meningkat.

Pandangan SMM: Transisi energi Indonesia akan bergerak dari 'target instalasi' menuju 'solusi sistem'

Secara keseluruhan, transisi energi Indonesia secara bertahap bergerak dari pengembangan yang didorong target kebijakan menuju skenario aplikasi konkret di sektor tambang, pulau, PLTS terapung, dan kawasan industri. Dalam jangka pendek, pasar PLTS Indonesia masih menghadapi kendala terkait koneksi jaringan, pembiayaan proyek, mekanisme PPA, persyaratan konten lokal, dan kecepatan eksekusi proyek, dan pertumbuhan instalasi aktual memerlukan waktu untuk terwujud. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, struktur kepulauan unik Indonesia, sumber daya mineral yang melimpah, skenario listrik captive berbiaya tinggi, dan persyaratan rantai pasok rendah karbon hilir akan terus menciptakan permintaan untuk PLTS, penyimpanan energi, microgrid, dan sistem manajemen karbon.

Di masa depan, daya saing inti pasar energi terbarukan Indonesia mungkin tidak lagi terbatas pada penetapan harga modul tunggal, tetapi dapat bergeser ke arah kemampuan sistem yang lebih komprehensif. Bagi perusahaan energi terbarukan, mereka yang dapat menyediakan solusi terintegrasi yang sesuai untuk jaringan lemah, sistem off-grid, PLTS terapung, dan karakteristik beban tambang memiliki peluang lebih besar untuk mengamankan pangsa pasar jangka panjang dalam transisi energi Indonesia.

Bagi SMM, riset pasar Indonesia di masa depan juga perlu melampaui penetapan harga modul tradisional hingga mencakup premi modul TKDN, biaya manufaktur lokal, kemajuan proyek PLTS terapung, permintaan listrik hijau tambang, biaya sistem penyimpanan energi, konfigurasi microgrid, persyaratan ekspor mineral rendah karbon, dan sistem penetapan harga bahan baku hulu seperti silika dan pasir kuarsa. Seiring transisi energi Indonesia memasuki fase implementasi proyek yang lebih praktis, transparansi harga, penilaian biaya, dan layanan data akan menjadi semakin penting.

Ditulis oleh: Ryan Tey Tze Yang | Analis PV SMM

Pernyataan Sumber Data: Kecuali informasi yang tersedia untuk publik, semua data lainnya diproses oleh SMM berdasarkan informasi publik, komunikasi pasar, dan mengandalkan model database internal SMM. Hanya untuk referensi dan tidak menjadi rekomendasi pengambilan keputusan.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut, silakan hubungi: lemonzhao@smm.cn
Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mengakses laporan penelitian kami, hubungi:service.en@smm.cn
Berita Terkait
[Solar: HVR Solar Akan Bangun Pabrik Sel TOPCon 1,2 GW di India]
8 jam yang lalu
[Solar: HVR Solar Akan Bangun Pabrik Sel TOPCon 1,2 GW di India]
Baca Selengkapnya
[Solar: HVR Solar Akan Bangun Pabrik Sel TOPCon 1,2 GW di India]
[Solar: HVR Solar Akan Bangun Pabrik Sel TOPCon 1,2 GW di India]
Produsen PV India dan perusahaan EPC HVR Solar berencana memasuki manufaktur sel surya dengan fasilitas produksi tahunan 1,2GW di Amroha, Uttar Pradesh. Perusahaan ini menandatangani MoU dengan sejumlah mitra teknologi internasional selama SNEC 2026, termasuk Shenzhen Han’s Photovoltaic Equipment untuk peralatan sel TOPCon, Gentech Technology untuk sistem utilitas kimia dan gas, serta Indygreen Technologies untuk integrasi lini produksi. HVR menyatakan proyek ini akan mendukung rantai pasok energi terbarukan domestik India, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan lebih dari 500 lapangan kerja langsung.
8 jam yang lalu
[Energi Surya: European Energy meresmikan taman surya 148MW di Latvia]
8 jam yang lalu
[Energi Surya: European Energy meresmikan taman surya 148MW di Latvia]
Baca Selengkapnya
[Energi Surya: European Energy meresmikan taman surya 148MW di Latvia]
[Energi Surya: European Energy meresmikan taman surya 148MW di Latvia]
European Energy yang berbasis di Denmark telah meresmikan Taman Surya Tārgale berkapasitas 148 MW di Latvia. Berlokasi di Kotamadya Ventspils, proyek senilai EUR 80 juta ini diperkirakan akan menghasilkan sekitar 154.550 MWh listrik per tahun, cukup untuk memasok sekitar 60.000 rumah tangga. Proyek ini didukung oleh PPA korporat 110 MW dengan Apple, yang disebut European Energy sebagai salah satu PPA korporat satu pabrik terbesar di kawasan Baltik. Proyek ini dikembangkan bersama pemangku kepentingan lokal dan dimiliki bersama oleh European Energy serta dana pensiun Denmark, Sampension.
8 jam yang lalu
[Tenaga Surya: FRV Amankan Kapasitas Jaringan 2,3 GW di Jerman]
8 jam yang lalu
[Tenaga Surya: FRV Amankan Kapasitas Jaringan 2,3 GW di Jerman]
Baca Selengkapnya
[Tenaga Surya: FRV Amankan Kapasitas Jaringan 2,3 GW di Jerman]
[Tenaga Surya: FRV Amankan Kapasitas Jaringan 2,3 GW di Jerman]
Fotowatio Renewable Ventures, bagian dari Jameel Energy, telah mengamankan kapasitas jaringan transmisi sebesar 2,3 GW di Jerman untuk mendukung proyek penyimpanan baterai, tenaga surya fotovoltaik, dan energi terbarukan hibrida. FRV mengatakan akses jaringan telah menjadi faktor penentu bagi proyek energi terbarukan dan penyimpanan skala besar di Jerman. Portofolio yang diamankan tersebut diharapkan mencapai status siap bangun antara tahun 2026 dan 2029 di seluruh wilayah termasuk Brandenburg, Niedersachsen, dan Nordrhein-Westfalen, mencakup proyek BESS 2 jam dan 4 jam, pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik, serta proyek hibrida.
8 jam yang lalu
[Analisis SMM] Transisi Energi Indonesia Berakselerasi: Dari Target Kebijakan ke Penerapan Nyata - Shanghai Metals Market (SMM)