[SMM Kilat Baja Tahan Karat] Menurut CREA, Baja Tahan Karat Masih Memimpin Permintaan Nikel Indonesia

Telah Terbit: Apr 20, 2026 18:07
Menurut laporan CREA, baja tahan karat tetap menjadi penggunaan akhir yang dominan bagi nikel Indonesia meskipun upaya pemasaran "nikel hijau" terus berlangsung. Pada 2025, 83% produksi nikel akan dialokasikan untuk baja tahan karat dibandingkan 17% untuk baterai kendaraan listrik; pada 2030, baja tahan karat diproyeksikan masih menyumbang 51% pasokan dibandingkan 18% untuk baterai. Permintaan dari sektor baterai menghadapi ketidakpastian seiring semakin banyak kendaraan listrik yang beralih ke teknologi bebas nikel. Indonesia, yang memproduksi lebih dari separuh nikel olahan global, menghadapi tekanan yang meningkat dari regulasi lingkungan yang lebih ketat dan pajak karbon atas produksinya yang berbasis batu bara, serta risiko rantai pasok yang lebih luas. Secara terpisah, BMI (perusahaan di bawah Fitch Solutions) menaikkan proyeksi harga nikel 2026 menjadi US$16.600/ton, dengan alasan ketidakpastian kebijakan dan meningkatnya risiko pasokan.

Pernyataan Sumber Data: Kecuali informasi yang tersedia untuk publik, semua data lainnya diproses oleh SMM berdasarkan informasi publik, komunikasi pasar, dan mengandalkan model database internal SMM. Hanya untuk referensi dan tidak menjadi rekomendasi pengambilan keputusan.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut, silakan hubungi: lemonzhao@smm.cn
Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mengakses laporan penelitian kami, hubungi:service.en@smm.cn