Baru-baru ini, Hyundai Motor Group menandatangani perjanjian kerja sama dengan Zhejiang Huayou Recycling Technology Co., Ltd. untuk bersama-sama membangun sistem daur ulang baterai daya kendaraan listrik di Indonesia. Kerja sama ini mencakup daur ulang dan penggunaan kembali limbah produksi baterai serta baterai yang telah habis masa pakainya, dengan tujuan mewujudkan sistem sumber daya tertutup di seluruh siklus hidup baterai.
Latar Belakang Kerja Sama
Sebagai produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia tengah mendorong transformasi dirinya dari eksportir bahan mentah menjadi pusat manufaktur baterai kendaraan listrik global dengan tekad yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut rencana pemerintah Indonesia, pada 2030 negara ini akan mencapai total kapasitas baterai kendaraan listrik sebesar 100 GWh dan berencana memproduksi sekitar 600.000 kendaraan listrik murni per tahun.
Pabrik baterai HLI Green Power, yang didirikan bersama di Indonesia oleh Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution, merupakan bagian penting dari strategi ini. Berlokasi di Karawang, Jawa Barat, pabrik ini memiliki total investasi sebesar US$1,1 miliar dan mulai beroperasi pada 2024. Kapasitas tahunannya mencapai 10 GWh dan dapat memasok sel baterai untuk lebih dari 150.000 kendaraan listrik. Pabrik ini terutama mendukung model kendaraan listrik Hyundai Motor Group di Asia Tenggara, India, dan pasar lainnya.
Namun, seiring pesatnya ekspansi kapasitas baterai, penanganan baterai yang telah habis masa pakainya dan limbah produksi menjadi isu yang semakin menonjol. Asosiasi Baterai Indonesia memperkirakan bahwa pada 2030 volume baterai daya bekas di negara ini akan mencapai 120.000 ton. Namun, sistem daur ulang yang ada saat ini memiliki kelemahan yang jelas: kapasitas pengolahan yang tidak memadai, kurangnya standar teknis, dan lebih dari 70% pengolahan dilakukan melalui saluran daur ulang informal. Di pinggiran Jakarta, bahkan telah muncul sejumlah bengkel pelindian asam litium terbuka yang menyebabkan kadar logam berat di tanah melebihi batas Uni Eropa hingga 50 kali lipat.
Kerja sama ini memiliki berbagai implikasi bagi perkembangan industri baterai Indonesia, bahkan bagi Asia Tenggara secara keseluruhan:
Meningkatkan Rantai Industri Lokal: Melalui Undang-Undang Energi Baru, pemerintah Indonesia telah menetapkan kendaraan listrik sebagai industri strategis nasional dan mewajibkan produsen mobil asing untuk berkomitmen membangun pabrik baterai di Indonesia, dengan target 40% komponen bersumber lokal pada 2027. Kerja sama antara Hyundai Motor dan Huayou Recycling membantu Indonesia membangun rantai industri lengkap yang mencakup penambangan mineral, manufaktur baterai, dan daur ulang. Mengatasi Tantangan Sumber Daya: Meskipun Indonesia kaya akan sumber daya nikel, negara ini hampir tidak memproduksi kobalt, dan sumber daya litiumnya bergantung pada impor dari Australia. Melalui daur ulang baterai, ketergantungan impor terhadap mineral kritis dapat dikurangi sebagian dan ketahanan sumber daya dapat ditingkatkan.
Menarik Lebih Banyak Investasi: Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan insentif fiskal seperti tarif impor nol, pembebasan pajak penjualan barang mewah, dan penurunan PPN dari 11% menjadi 1% untuk menarik investasi asing ke industri baterai.
Kerja sama daur ulang baterai di Indonesia antara Hyundai Motor Group dan Huayou Recycling bukan hanya langkah komersial kedua perusahaan, tetapi juga mencerminkan transisi industri baterai global menuju ekonomi sirkular. Seiring pesatnya ekspansi pasar kendaraan listrik, daur ulang baterai telah bergeser dari isu perlindungan lingkungan menjadi persoalan strategi sumber daya dan ekonomi.



