Pada Februari 2026, ekspor material katoda terner China (gabungan NCM dan NCA) mencapai 10.800 ton metrik, turun 14% dibanding bulan sebelumnya tetapi naik 76% dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, ekspor NCM mencapai 10.600 ton metrik, atau 98% dari total.
Berdasarkan tujuan, Korea Selatan tetap menjadi importir NCM terbesar, dengan volume impor mencapai 5.147 ton metrik pada Februari. Polandia dan Jepang menempati peringkat kedua dan ketiga, dengan volume impor masing-masing 1.490 ton metrik dan 1.457 ton metrik. Selain itu, Jerman, Malaysia, dan Hungaria mencatat kenaikan volume impor tahunan yang signifikan.
Dari sisi total volume ekspor, ekspor pada Januari hingga Februari 2026 tetap berada di level tinggi secara historis, sebanding dengan volume pada paruh kedua 2025. Pola musiman tradisional permintaan katoda terner luar negeri biasanya lebih lemah pada awal tahun dan lebih kuat menjelang akhir tahun. Kemampuan mempertahankan level ekspor yang tinggi pada kuartal pertama tahun ini terutama disebabkan oleh penghapusan rabat PPN 13% China untuk ekspor material katoda terner yang akan berlaku mulai 1 April. Menjelang perubahan kebijakan ini, sebagian besar pelanggan luar negeri melakukan pemesanan lebih awal, sehingga sebagian permintaan terealisasi lebih cepat. Volume ekspor pada kuartal kedua diperkirakan akan turun signifikan.
Perlu dicatat bahwa prospek permintaan katoda terner luar negeri secara keseluruhan pada 2026 masih lemah. Pasar AS telah lesu sejak kuartal keempat tahun lalu, sehingga banyak produsen luar negeri menaruh harapan pada pasar Eropa. Di satu sisi, beberapa negara Eropa tetap berkomitmen pada tren jangka panjang elektrifikasi, dengan banyak di antaranya kembali melanjutkan atau memperpanjang program subsidi kendaraan energi baru. Di sisi lain, sejumlah penyesuaian kebijakan dapat memengaruhi penjualan kendaraan listrik beberapa produsen mobil dalam jangka pendek.
Sebagai contoh, Norwegia mulai mengenakan PPN pada sejumlah kendaraan listrik berharga tinggi, yang menandai berakhirnya era subsidi universal. Inggris dan Prancis telah menerapkan pembedaan ketat terhadap produsen mobil yang berhak menerima subsidi, dengan mengutamakan merek yang diproduksi di dalam negeri, sehingga berdampak negatif pada penjualan jangka pendek merek non-Eropa yang diekspor ke pasar tersebut. Selain itu, IAA yang baru diusulkan menimbulkan tantangan besar bagi pemasok non-Uni Eropa yang menargetkan pasar Eropa.
Meski fluktuasi kebijakan ini untuk sementara dapat memengaruhi penjualan di Eropa bagi beberapa produsen mobil Tiongkok, Jepang, dan Korea, hal ini juga mendorong para produsen tersebut untuk mempercepat pengembangan jejak produksi mereka di Eropa, sehingga mendukung penempatan pasar jangka panjang.



