Pada pagi hari 18 Maret 2026, kontrak timah SHFE yang paling aktif diperdagangkan menunjukkan pusat harga bergerak turun setelah pembukaan, dengan level terendah intraday menyentuh sekitar 355.000 yuan/mt. Setelah itu, harga sedikit rebound didukung transaksi pasar dan menutup sesi pagi di 355.930 yuan/mt, turun 3,86%. Timah LME berfluktuasi seiring dengan SHFE dan ditutup semalam di $44.870/mt, turun 1,05%. Pasokan bijih timah di Myanmar berangsur pulih, dan sejumlah perusahaan besar di Indonesia telah memulai produksi serta pengiriman secara stabil, sehingga melemahkan logika gangguan pasokan yang sebelumnya menopang harga timah. Di tengah kuatnya dolar AS, logam dasar berdenominasi dolar AS menghadapi tekanan, dan harga timah secara keseluruhan tetap tertekan.
Sentimen permintaan informasi pasar pagi ini tergolong moderat, dengan sebagian besar penawaran dari hilir terkonsentrasi pada kisaran harga rendah di sekitar 350.000 yuan/mt. Namun, menurut umpan balik pasar, ketersediaan spot yang beredar saat ini terbatas, dengan sebagian besar persediaan beredar melalui gudang serah. Kesediaan pemasok untuk menjual secara keseluruhan netral, dan premi yang ditawarkan tetap berada pada level yang relatif tinggi. Meskipun transaksi aktual membaik dibandingkan periode sebelumnya, aktivitas masih agak tertahan.
Secara keseluruhan, harga timah masih tertekan oleh faktor makro, dan pusat harga berpotensi bergerak turun secara bertahap. Namun, setelah penurunan beruntun baru-baru ini, transaksi pada harga rendah agak pulih, yang dapat memberikan sedikit dukungan bagi pasar. Dalam jangka pendek, harga timah diperkirakan akan berkonsolidasi di sekitar level harga kunci. Ke depan, perhatian tetap perlu diberikan pada perubahan sentimen makro di luar China, serta apakah permintaan hilir yang telah tertahan selama berbulan-bulan dapat terus dilepaskan dalam kisaran tersebut.



