Pasar Filipina: Pasokan Ketat dan Lonjakan Tarif Angkut Mendukung Harga Bijih Berfluktuasi di Level Tinggi Harga bijih nikel Filipina naik tajam pekan ini. Dari sisi harga, kuotasi CIF China untuk bijih nikel Filipina berada di US$64-68/wmt untuk kadar Ni 1,3%, US$71-75/wmt untuk kadar Ni 1,4%, dan US$78-82/wmt untuk kadar Ni 1,5%, naik US$6 dibanding pekan lalu. Harga rata-rata CIF dari Filipina ke Indonesia tercatat US$65,5/wmt untuk kadar 1,3% dan US$72,5/wmt untuk kadar 1,4%. Dari sisi pasokan, meskipun Filipina sedang memasuki musim kemarau, pusat tambang seperti Surigao dan Homonhon masih mengalami hujan lebat akibat area bertekanan rendah (LPA) di timur Mindanao. Walau Metro Manila dan sebagian besar Luzon mengalami cuaca panas dan cerah, peluang curah hujan melebihi 50 mm di Surigao dan Caraga tetap “sangat tinggi”. Badai petir kuat dan hujan tersebar diperkirakan semakin menguat pada 9 hingga 13 Maret. Dipengaruhi palung area bertekanan rendah dan angin timuran, hujan yang berlanjut dapat terus mengganggu penambangan terbuka dan operasi pemuatan kapal di wilayah selatan. Pasokan pasar tetap langka. Didorong oleh ketatnya pasokan akibat pemangkasan kuota RKAB di Indonesia serta ekspektasi kesenjangan pasokan, harga utama bijih nikel Filipina melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Hingga Jumat, 13 Maret, persediaan bijih nikel di pelabuhan China tercatat 5,23 juta mt, turun 500.000 mt dibanding pekan lalu. Total persediaan pelabuhan saat ini setara sekitar 41.100 mt kandungan logam nikel. Dari sisi permintaan, harga NPI China naik pekan ini, dengan harga transaksi spot naik sekitar 1.089,9 yuan per unit nikel. Karena smelter telah memiliki stok yang cukup sebelumnya dan menunjukkan penerimaan terbatas terhadap bijih nikel berharga tinggi belakangan ini, sebagian besar kini masih mengambil sikap wait and see. Dari sisi tarif angkutan laut, terdorong lonjakan tajam harga minyak, tarif angkut bijih nikel naik, dengan tarif dari Filipina ke Lianyungang mencapai US$15/mt atau lebih. Ke depan, harga bijih nikel Filipina diperkirakan akan terus berfluktuasi di level tinggi.
Pasar Indonesia: Di Tengah Gangguan Cuaca dan Kejelasan Kebijakan RKAB, Pasokan Ketat Berlanjut
Harga bijih nikel domestik Indonesia naik tipis pekan ini. Harga patokan mineral (HPM) bijih nikel Indonesia untuk paruh pertama Maret ditetapkan sebesar US$17.104/dmt, turun 3,21% dibanding bulan lalu. Menurut data premi bijih nikel Indonesia dari SMM, rata-rata premi untuk bijih nikel laterit berkadar 1,4%, 1,5%, dan 1,6% masing-masing dilaporkan sebesar US$35, US$39, dan US$39,5/wmt. Di antaranya, harga tiba di pelabuhan dalam perdagangan domestik untuk kadar 1,6% berada di kisaran US$65,2-74,2/wmt. Penguatan premi secara bersamaan bulan ini mencerminkan pelepasan permintaan restocking smelter dan ekspektasi pesimistis atas pemangkasan kuota RKAB, sementara harga serah bijih limonit kadar 1,2% juga naik tipis ke US$24-26/wmt. Dari fundamental penawaran dan permintaan, hingga 13 Maret, wilayah utama penghasil bijih nikel Indonesia seperti Morowali, Konawe, dan Halmahera pekan ini terdampak badai petir kuat dan kelembapan sangat tinggi hingga 94%. Cuaca terus berfluktuasi, menyebabkan tanah sangat jenuh air dan sangat menghambat pengeringan tambang serta operasi transportasi. Morowali dan Konawe akan menghadapi sistem hujan lebat pada akhir pekan dengan probabilitas presipitasi setinggi 80%, sementara Halmahera, di bawah kondisi kelembapan tinggi, diperkirakan akan kembali mengalami peningkatan intensitas hujan Jumat depan, dengan kapasitas logistik secara keseluruhan tetap terbatas. Saat ini, persetujuan RKAB untuk sebagian besar tambang kecil dan menengah masih tertunda. Karena kuota yang ada tidak lagi dapat digunakan untuk produksi dan penjualan bulan depan, meningkatnya ketidakpastian pasokan mendorong harga bijih nikel lebih tinggi. Dari sisi permintaan, karena beberapa smelter Indonesia menghadapi ketidakpastian atas sumber daya bijih nikel dan kesulitan mendapatkan bijih saprolit berkadar tinggi, harga bijih nikel tetap kuat. Untuk mengamankan pasokan bahan baku, beberapa smelter bahkan menaikkan bonus perdagangan. Secara keseluruhan, meskipun dampak kegagalan sistem MOMS saat ini terhadap tambang sebagian besar telah mereda, pasokan bijih nikel secara umum masih ketat. Meski pasokan spot bijih limonit relatif mencukupi, beberapa lini produksi terkait saat ini berjalan dengan beban rendah akibat kecelakaan longsor bendungan tailing pada beberapa proyek MHP di kawasan industri Indonesia, sehingga menyebabkan pelemahan sementara pada permintaan secara keseluruhan. Namun, dengan mempertimbangkan kekhawatiran sebagian smelter Indonesia atas ketidakpastian persetujuan RKAB, permintaan penimbunan bahan baku dari proyek yang baru mulai beroperasi, serta pertumbuhan berkelanjutan permintaan dari pulau-pulau luar, harga bijih limonit diperkirakan akan mengikuti ketat pergerakan bijih saprolit dan tetap tinggi. Dari sisi kebijakan, menanggapi rumor pasar terbaru bahwa “kuota produksi (RKAB) akan ditambah secara seragam sebesar 25%-30%,” Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, pada 3 Maret 2026 menjelaskan bahwa penambahan RKAB akan didasarkan pada penilaian individual atas kapasitas produksi dan kepatuhan perusahaan, bukan kenaikan proporsional yang seragam, serta mengindikasikan bahwa proses persetujuan akan dimulai pada paruh kedua 2026. Pejabat menekankan bahwa ini merupakan proses regulasi rutin untuk optimalisasi sumber daya, bukan langkah penanggulangan pasif terhadap kebijakan pembatasan produksi sebelumnya. Ke depan, dipengaruhi oleh progres persetujuan RKAB yang relatif lambat, harga bijih nikel diperkirakan pada April akan lebih berpeluang naik daripada turun.

![[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat](https://imgqn.smm.cn/usercenter/OjGlE20251217171734.jpg)
![[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat](https://imgqn.smm.cn/usercenter/PFIti20251217171734.jpg)
