Sumber daya bijih timbal Vietnam termasuk yang teratas di Asia Tenggara dan merupakan bagian penting dari cadangan bijih timbal global. Menurut data Bea Cukai Tiongkok dan SMM, pada 2025, Vietnam secara kumulatif mengekspor sekitar 24.000 ton konsentrat timbal ke Tiongkok, setara sekitar 31% dari total impor konsentrat timbal Tiongkok dari Asia Tenggara, dan menjadi salah satu sumber pasokan bahan baku inti bagi perusahaan peleburan timbal di Tiongkok Selatan.

Dipengaruhi oleh peningkatan Undang-Undang Mineral Vietnam pada 2026, laju ekspor ke Tiongkok sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada akhir 2025, dan volume ekspor selanjutnya mungkin menghadapi tekanan, yang berpotensi menyebabkan perlambatan di masa mendatang.
Pada 11 Desember 2025, Majelis Nasional Vietnam meninjau dan mengesahkan klausul baru dalam "Undang-Undang Geologi dan Mineral yang Direvisi", yang resmi berlaku pada 1 Januari 2026. Revisi ini memperbarui total enam ketentuan inti, termasuk penyesuaian klasifikasi mineral, optimalisasi aturan perizinan pertambangan, dan penguatan pengendalian mineral. Semua ini dapat berdampak signifikan terhadap perusahaan pertambangan, terutama yang menambang mineral logam di Vietnam. Dampak potensial utamanya adalah sebagai berikut:
1. Pengawasan pertambangan hulu makin ketat dan ambang kepatuhan lebih tinggi.
Mineral logam diklasifikasikan ulang dari Kelompok II ke Kelompok I, karena mineral Kelompok I memiliki arti strategis bagi pembangunan ekonomi negara; ini berarti kewenangan persetujuan untuk eksplorasi dan penambangan menjadi sangat tersentralisasi, kepatuhan ketat terhadap rencana strategis nasional diwajibkan, dan model operasi lintas batas dibatasi sampai batas tertentu untuk mencegah pelanggaran terhadap sumber daya.
(1) Prosedur perizinan menjadi lebih sulit: Perusahaan pertambangan logam harus mematuhi prosedur perizinan yang lebih ketat saat menjalankan kegiatan mineral, sementara waktu dan biaya untuk memperoleh izin tambang diperkirakan akan meningkat.
(2) Pengawasan dan pelaporan: kegiatan pertambangan kemungkinan akan dikenai pengawasan terperinci dan kewajiban pelaporan, yang mencakup operasi penambangan, perdagangan, perlindungan lingkungan, dan pengelolaan sumber daya.
2. Pengawasan pertambangan hulu makin ketat dan ambang kepatuhan lebih tinggi.
Mineral logam diklasifikasikan ulang dari Kelompok II ke Kelompok I, karena mineral Kelompok I memiliki arti strategis bagi pembangunan ekonomi negara; ini berarti kewenangan persetujuan untuk eksplorasi dan penambangan menjadi sangat tersentralisasi, kepatuhan ketat terhadap rencana strategis nasional diwajibkan, dan model operasi lintas batas dibatasi sampai batas tertentu untuk mencegah pelanggaran terhadap sumber daya.
(1) Prosedur perizinan menjadi lebih sulit: Perusahaan pertambangan logam harus mematuhi prosedur perizinan yang lebih ketat dalam menjalankan kegiatan pertambangan mineral, sementara waktu dan biaya untuk memperoleh izin pertambangan diperkirakan akan meningkat.
(2) Pengawasan dan pelaporan: Kegiatan pertambangan kemungkinan akan dikenai pengawasan yang lebih rinci serta kewajiban pelaporan yang mencakup operasi pertambangan, perdagangan, perlindungan lingkungan, dan pengelolaan sumber daya.
3. Kebijakan dan Pajak yang Lebih Ketat
Pajak dan biaya: Perusahaan pertambangan logam akan dikenai pajak dan biaya yang lebih tinggi atas sumber daya Kelas I guna menyeimbangkan kepentingan negara dalam sumber daya mineral.
4. Tren Baru dalam Industri Pendukung dan Daur Ulang Sumber Daya Logam
Alih teknologi dan pengembangan industri pendukung: Pengelolaan mineral logam yang ketat menciptakan peluang bagi industri pendukung hijau yang terkait dengan daur ulang mineral.
![Tarik-ulur antara Penjual dan Pembeli Berlanjut, Tren Fluktuasi Harga Timbal Jangka Pendek Sulit Ditembus [Tinjauan Singkat Berjangka Timbal]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/TmYox20251217171721.jpeg)


