I. Tinjauan Harga Timah Selama Tahun Baru Imlek
Selama libur Tahun Baru Imlek 2026 (15–23 Februari), timah SHFE ditutup sementara timah LME berfluktuasi dalam kisaran terbatas di level tinggi.
Penurunan prap-liburan setelah kenaikan cepat: pada minggu sebelum liburan, harga timah melonjak tajam karena tiga pendorong—ekspektasi pelonggaran makro luar negeri, pasokan domestik yang ketat, dan restocking tepat waktu. Namun, pada hari perdagangan terakhir (13 Februari), data CPI AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat kekhawatiran suku bunga "lebih tinggi untuk lebih lama", dolar AS rebound, pabrik hilir tutup untuk liburan, dan modal risk-off keluar; kontrak timah SHFE yang paling banyak diperdagangkan ditutup pada 365.400 yuan/ton, anjlok 7,05% pada hari itu.
Pergerakan kisaran terbatas selama liburan: dengan SHFE ditutup, LME kekurangan katalis satu arah yang jelas. Sisi permintaan berada di musim sepi tradisional, meninggalkan kebuntuan "pasokan ketat, permintaan lemah". Timah LME diperkirakan akan melayang di sekitar level kunci selama jeda.
II. Peristiwa Makro Kunci & Pembaruan Industri
Perubahan aturan RKAB: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia mengembalikan siklus persetujuan RKAB (Rencana Kerja & Anggaran) dari tiga tahun kembali menjadi satu tahun, efektif 2026. Pergeseran ini memaksa beberapa penambang untuk mengajukan kembali pada kuartal pertama, memperlambat ekspor sementara.
Ekspektasi kuota vs. kenyataan: Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) mengatakan pertengahan Januari bahwa kuota produksi tambang 2026 diperkirakan sekitar 60 ribu ton; persetujuan masih dalam tinjauan.
Penertiban tambang ilegal: Jakarta sebelumnya memerintahkan penutupan 1.000 tambang timah ilegal di Sumatra.
Geopolitik: kekhawatiran rantai pasokan setelah gempa sebelumnya di Myanmar masih tersisa, sementara tambang Bisie di DRC tetap terganggu oleh konflik regional. Secara makro, data inflasi AS yang bergejolak dan kebijakan perdagangan pemerintahan Trump menjaga ketidakpastian tetap tinggi.
III. Prospek Pasca-Liburan
Sisi pasokan: penghentian operasi Tahun Baru Imlek pada Februari dan pemeliharaan terjadwal di sebagian besar peleburan domestik akan memotong produksi batang timah. Impor bijih Myanmar mungkin pulih perlahan, namun kebijakan kuota Indonesia yang lebih ketat bertindak sebagai hambatan keras.
Sisi permintaan: seiring pedagang dan pabrik solder, elektronik, dan PV hilir melanjutkan kerja, pengadaan tepat waktu seharusnya pulih secara bertahap. Namun, harga absolut timah tetap tinggi secara historis, kemungkinan membatasi keinginan dan intensitas penimbunan hilir; kecepatan pemulihan permintaan mungkin sederhana.
Pasca liburan, timah SHFE diperkirakan akan tetap dalam polaayunan lebar level tinggi. Di bawah, kekencangan bijih dan inventaris rendah memberikan dukungan solid; di atas, harga tinggi akan secara jelas membatasi penyerapan fisik. Secara keseluruhan, kisaran perdagangan inti kontrak timah SHFE yang paling banyak diperdagangkan diproyeksikan pada360.000–400.000 yuan/ton. Pantau kecepatan restart hilir yang sebenarnya, kekuatan restocking, dan bentuk akhir kebijakan ekspor Indonesia.
![SHFE timah ditutup di 412.910 pada sesi malam, turun 0,70%, karena posisi jual bertambah. Level 410.000 sedang diperebutkan oleh pembeli dan penjual [SMM Tin Morning News]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/reOma20251217171751.jpg)
![SHFE timah semalam naik 0,76% hingga berada di atas 418.000; probabilitas kenaikan suku bunga September turun menjadi 50,4% [Ringkasan Rapat Pagi Timah SMM]](https://imgqn.smm.cn/usercenter/JnZMp20251217171752.jpg)

