[SMM Flash News] Pada 8 Juli, Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey dalam sebuah wawancara dengan CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa produksi bijih nikel Indonesia hanya mencapai 120 juta ton pada tahun 2025, dengan penyerapan kuartal pertama sebesar 50-65 juta ton, sedangkan kuartal kedua mencapai 60-65 juta ton. Sebaliknya, persetujuan kuota RKAB dari Januari-Juni 2025 telah mencapai 364,1 juta ton, sekitar tiga kali lebih besar daripada produksi aktualnya. Alasan utama gangguan ini disebabkan oleh gangguan musim hujan di wilayah pertambangan utama seperti Sulawesi, yang berdampak pada pemanfaatan RKAB yang rendah secara domestik. Selain itu, impor bijih nikel dari Filipina mencapai 4,6 juta ton pada semester pertama tahun ini.
Di luar masalah ini, Meidy juga menyatakan bahwa industri nikel Indonesia menghadapi tekanan biaya yang meningkat sejak Januari 2025 karena kebijakan DMO, peningkatan pencampuran biodiesel (B40 menjadi B50), biaya ekspor baru, dan kenaikan pajak termasuk GMT dan pajak yang diusulkan, yang memaksa 28 jalur RKEF untuk ditutup dan membebani operasi smelter. Pada saat yang sama, APNI sedang memajukan upaya keberlanjutan dengan mengembangkan standar ESG yang sesuai dengan IRMA dan menganalisis 57 peraturan lokal untuk meningkatkan reputasi industri nikel Indonesia, bertujuan untuk memperkuat posisi kepemimpinan globalnya melalui peningkatan kepercayaan pasar.
![[SMM Kilasan Baja Tahan Karat] Aturan Melt-and-Pour Uni Eropa Akan Membentuk Ulang Ketertelusuran Rantai Pasok Baja Tahan Karat](https://imgqn.smm.cn/usercenter/PuSOO20251217171732.jpeg)

