[SMM Berita Kilat] SMM melaporkan pada 30 Juni bahwa Indonesia sedang memperkuat industri baja dengan fokus pada produksi baja tahan karat di sektor minyak dan gas (O&G), bertujuan untuk mengurangi impor dan memanfaatkan cadangan bijih nikel yang melimpah di negara tersebut untuk menjadi pemimpin global di pasar khusus ini.
Inisiatif terbaru meliputi:
PT CT Advance Technology berkolaborasi dengan Tubacex Group dari Spanyol untuk menginvestasikan 1 triliun rupiah Indonesia (sekitar 430 juta yuan) untuk mendirikan pabrik baja tahan karat pertama di Indonesia, dengan kapasitas produksi tahunan yang diperkirakan mencapai 10.000 mt baja tahan karat kelas laut.
PT Artas Energi Petrogas bermitra dengan Inerco Global International untuk menginvestasikan 2,5 triliun rupiah Indonesia (sekitar 1,08 miliar yuan) untuk membangun pabrik pipa baja tanpa sambungan terbesar di Asia Tenggara, dengan kapasitas tahunan mencapai 250.000 mt, yang mampu memenuhi 50% permintaan Indonesia dan menghemat 15 triliun rupiah Indonesia (sekitar 6,5 miliar yuan) dalam pengeluaran impor.
Pemerintah Indonesia lebih lanjut mendukung produksi dalam negeri melalui langkah-langkah seperti kebijakan hilir nikel dan pengendalian impor baja, mempromosikan tingkat kemandirian yang lebih tinggi di sektor minyak dan gas.
![[SMM Tinjauan Tengah Hari Nikel] Harga nikel menurun pada 4 September, seiring konflik AS-Iran yang berlanjut dan harga minyak tetap bertahan di level tinggi](https://imgqn.smm.cn/usercenter/Btmsv20251217171733.jpg)
![[SMM Kilasan Baja Tahan Karat] Aturan Melt-and-Pour Uni Eropa Akan Membentuk Ulang Ketertelusuran Rantai Pasok Baja Tahan Karat](https://imgqn.smm.cn/usercenter/PuSOO20251217171732.jpeg)

