Bahlil: Persetujuan RKAB Bertujuan Menjaga Keseimbangan dan Harga

Telah Terbit: Oct 23, 2024 10:17
Sumber: SMM
Menteri Bahlil Lahadalia menekankan bahwa persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan nikel bukanlah fokus utama, tetapi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan serta harga. Pemerintah bertujuan mendorong pengembangan industri hilir nikel dan memberikan insentif bagi bisnis untuk membangun industri hilir dan infrastruktur pendukung.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa percepatan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan nikel bukanlah hal utama, tetapi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan serta harga adalah hal utama.

“RKAB itu penting tetapi negara juga harus adil. Jadi, kita akan menjaga pasokan dan permintaan. Jika permintaan sedikit, pasokan banyak, harga akan jatuh. Jadi, kita menjaga keseimbangan,” kata Bahlil di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Jumat (18/10/2024).

Misalnya, RKAB perusahaan nikel yang memiliki tambang juga harus membeli nikel dari perusahaan tambang yang tidak memiliki smelter atau tambang nikel kecil atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perusahaan tambang nikel daerah.

“Misalnya, sebuah smelter membutuhkan 10 juta ton dan dia meminta 10 juta juga, artinya tidak memberikan kesempatan bagi dia untuk memberikan dari pengusaha tambang lainnya. Jika seperti ini, akan mematikan perusahaan lain. Jadi, kita harus berbagi dari 10 juta ton, misalnya memberikan 60% dan 40% membeli dari luar,” lanjutnya.

Menurutnya, ini seperti kebun plasma inti agar mereka hidup bersama, apalagi perusahaan yang memiliki smelter kebanyakan adalah perusahaan asing. Jika RKAB diberikan semua kepada perusahaan asing, ke mana perusahaan tambang yang tidak memiliki smelter akan menjual? Jadi, itulah tugas pemerintah. Hadir untuk menengahi agar industri berjalan baik dan perusahaan juga berjalan baik.

“Itulah sebenarnya solusinya. Kita menjaga keseimbangan. Jadi, harga pasokan dan permintaan terjaga atau jika perlu kita memberikan kebutuhan dalam negeri. Misalnya, 200 juta ton untuk nikel, RKAB kita memberikan 300 juta. Harga nikel jatuh, yang menguntungkan industri,” pungkasnya.

Perlu dicatat, untuk RKAB produksi nikel 2024 telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebesar 240 juta ton dan kebutuhan sebelumnya pada 2023 sebesar 220 juta ton meningkat 20 juta ton. Ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus mendorong industri untuk meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi nikel. Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya nikel yang sangat besar, mencapai 17 miliar ton dengan cadangan 5 miliar ton.

Pernyataan Sumber Data: Kecuali informasi yang tersedia untuk publik, semua data lainnya diproses oleh SMM berdasarkan informasi publik, komunikasi pasar, dan mengandalkan model database internal SMM. Hanya untuk referensi dan tidak menjadi rekomendasi pengambilan keputusan.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut, silakan hubungi: lemonzhao@smm.cn
Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mengakses laporan penelitian kami, hubungi:service.en@smm.cn
Berita Terkait
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
30 Apr 2026 23:41
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
Read More
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
30 Apr 2026 23:41
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
30 Apr 2026 22:33
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
Read More
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
Menurut Commodity Markets Outlook Bank Dunia edisi April 2026, produksi nikel olahan global diperkirakan meningkat moderat pada 2026 dan 2027 seiring beroperasinya kapasitas pemrosesan baru di Indonesia. Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa ketersediaan bijih hulu yang semakin ketat kemungkinan akan membatasi utilisasi kapasitas. Ini menunjukkan pertumbuhan pasokan nikel Indonesia ke depan mungkin semakin bergantung pada ketersediaan bijih, bukan semata-mata kapasitas pemrosesan nominal.
30 Apr 2026 22:33
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
30 Apr 2026 22:32
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
Read More
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
Menurut laporan Commodity Markets Outlook Bank Dunia edisi April 2026, harga nikel diproyeksikan naik 12% secara tahunan pada 2026 dan 3% lagi pada 2027, karena pertumbuhan konsumsi global diperkirakan melampaui ekspansi pasokan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa meskipun kapasitas pemrosesan nikel baru akan terus beroperasi di Indonesia, ketersediaan bijih hulu yang lebih ketat kemungkinan akan membatasi tingkat utilisasi dan menjaga pasar tetap ketat. Laporan ini juga mencatat bahwa gangguan lebih lanjut terhadap ekspor sulfur dari produsen Timur Tengah dapat menjadi risiko kenaikan tambahan bagi harga nikel.
30 Apr 2026 22:32