[Analisis SMM] Harga Nikel Turun Lebih Dulu Lalu Rebound Pekan Ini, Sementara Persediaan China Sedikit Naik

Telah Terbit: Mar 27, 2026 17:08

Pekan ini, harga nikel sempat turun lalu naik, bergerak mendatar di tengah tarik-menarik antara fluktuasi makro dan kebijakan sisi pasokan. Pada awal pekan, terdampak penguatan dolar AS dan sentimen penghindaran risiko di pasar komoditas global, nikel LME sempat turun di bawah level kunci US$17.000. Harga kemudian pulih seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan bahwa Indonesia berencana mengenakan pajak ekspor nikel. Hingga penutupan Jumat, harga mingguan kontrak nikel SHFE yang paling aktif naik 3%, sementara kontrak nikel LME 3M menguat 2,4% dibanding pekan sebelumnya. Di pasar spot, harga rata-rata SMM untuk nikel rafinasi #1 tercatat 138.030 yuan/mt pekan ini, naik 1.100 yuan/mt dari pekan sebelumnya. Premi rata-rata nikel Jinchuan pekan ini sebesar 5.900 yuan/mt, turun 1.600 yuan/mt dari pekan sebelumnya. Premi untuk merek nikel elektrodeposisi utama di Tiongkok berada di kisaran -600 hingga 400 yuan/mt. Premi pelat nikel turun signifikan pekan ini, dan lesunya permintaan menyebabkan transaksi di pasar spot kurang bergairah.

Dari sisi makro, risiko geopolitik terus membebani selera risiko pasar pekan ini. Menurut laporan media AS, Departemen Pertahanan AS tengah menyusun rencana militer “serangan mematikan yang menentukan” terhadap Iran, yang dapat mencakup pengerahan pasukan darat dan serangan udara skala besar. Meski sebelumnya sempat muncul kabar mengenai peluang gencatan senjata, sentimen penghindaran risiko belum benar-benar mereda. Kebijakan makro Tiongkok tetap bernada positif, dan sinyal pro-pertumbuhan yang disampaikan pada Forum Boao turut meningkatkan kepercayaan pasar.

Dari sisi persediaan, stok di Kawasan Berikat Shanghai sekitar 1.700 mt pekan ini, dengan penurunan persediaan 500 mt dibanding pekan sebelumnya. Persediaan sosial Tiongkok sekitar 90.000 mt, dengan kenaikan persediaan sekitar 1.300 mt dibanding pekan sebelumnya.

Dalam jangka pendek, harga nikel diperkirakan tetap berada dalam tarik-menarik antara “dukungan biaya yang kuat” dan “permintaan riil yang lemah”. Kisaran perdagangan inti kontrak nikel SHFE yang paling aktif diperkirakan berada di 133.000-143.000 yuan/mt. Dukungan batas bawah biaya dari kebijakan Indonesia tetap solid, tetapi tekanan makro dan lemahnya permintaan akan membatasi ruang kenaikan.

Pernyataan Sumber Data: Kecuali informasi yang tersedia untuk publik, semua data lainnya diproses oleh SMM berdasarkan informasi publik, komunikasi pasar, dan mengandalkan model database internal SMM. Hanya untuk referensi dan tidak menjadi rekomendasi pengambilan keputusan.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut, silakan hubungi: lemonzhao@smm.cn
Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mengakses laporan penelitian kami, hubungi:service.en@smm.cn
Berita Terkait
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
30 Apr 2026 23:41
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
Read More
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
【Analisis SMM】Tinjauan Mingguan Pasar Nikel Indonesia - 30 Apr
30 Apr 2026 23:41
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
30 Apr 2026 22:33
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
Read More
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Sebut Kapasitas Nikel Baru Indonesia Mungkin Terhambat oleh Pasokan Bijih yang Ketat
Menurut Commodity Markets Outlook Bank Dunia edisi April 2026, produksi nikel olahan global diperkirakan meningkat moderat pada 2026 dan 2027 seiring beroperasinya kapasitas pemrosesan baru di Indonesia. Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa ketersediaan bijih hulu yang semakin ketat kemungkinan akan membatasi utilisasi kapasitas. Ini menunjukkan pertumbuhan pasokan nikel Indonesia ke depan mungkin semakin bergantung pada ketersediaan bijih, bukan semata-mata kapasitas pemrosesan nominal.
30 Apr 2026 22:33
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
30 Apr 2026 22:32
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
Read More
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
[SMM Kilasan Pasar Nikel] Bank Dunia Prediksi Harga Nikel Naik 12% pada 2026 akibat Pasokan Ketat
Menurut laporan Commodity Markets Outlook Bank Dunia edisi April 2026, harga nikel diproyeksikan naik 12% secara tahunan pada 2026 dan 3% lagi pada 2027, karena pertumbuhan konsumsi global diperkirakan melampaui ekspansi pasokan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa meskipun kapasitas pemrosesan nikel baru akan terus beroperasi di Indonesia, ketersediaan bijih hulu yang lebih ketat kemungkinan akan membatasi tingkat utilisasi dan menjaga pasar tetap ketat. Laporan ini juga mencatat bahwa gangguan lebih lanjut terhadap ekspor sulfur dari produsen Timur Tengah dapat menjadi risiko kenaikan tambahan bagi harga nikel.
30 Apr 2026 22:32
Daftar untuk Lanjut Membaca
Dapatkan akses ke wawasan terkini tentang logam dan energi baru
Sudah memiliki akun?masuk di sini